5. Tidak untuk Dimakan
Pada awalnya dalam pernikahan adat Suku Betawi, roti buaya disajikan dengan maksud sebagai simbol kestabilan pernikahan dan tidak untuk dikonsumsi oleh tamu undangan.
Sehingga roti buaya seringkali bertekstur keras dan tahan lama tanpa ada campuran bahan-bahan apapun.
Namun seiring perkembangannya, roti buaya kini mengalami perubahan dengan tekstur lembut dan lezat untuk dikonsumsi.
Meski mengalami perubahan, nilai-nilai yang terkandung dalam roti buaya tidak bergeser dan tetap dilestarikan oleh masyarakat Suku Betawi hingga kini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!