SketsaNusantara.id – Keanekaragaman budaya di Indonesia sangat kental akan filosofi yang menjadi landasan masyarakatnya untuk dapat hidup di antara satu dengan yang lain.
Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan dalam bernegara, memayungi berbagai macam filosofi tersebut yang ada di seluruh wilayah Nusantara.
Ada sejak zaman kerajaan hingga saat ini, filosofi-filosofi budaya daerah tersebut tak lapuk dimakan modernisasi dan globalisasi, serta tetap relevan untuk diterapkan pada masa kini.
Salah satu filosofi hidup yang ada di Indonesia dimiliki oleh masyarakat Lampung yang disebut dengan Piil Pesenggiri.
Secara bahasa Piil berarti harga diri, sedangkan Pesenggiri berarti pantang menyerah atau berjuang. Secara utuh Piil Pesenggiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.
Falsafah hidup Ulun (sebutan untuk masyarakat suku Lampung) Lampung ini bersumber dari Kitab Kuntara Raja Niti yang yang mengatur hukum bagi banyak hal dalam kehidupan suku Lampung, baik Lampung Pepadun ataupun Lampung Saibatin.
Piil Pesenggiri ini menjadi warisan budaya dari masyarakat Lampung. Seperti dilansir SketsaNusantara.id dari jdih.lampungprov.go.id, dalam khazanah budaya Lampung, warisan bukan semata soal harta benda, namun lebih dalam lagi berupa nilai, prinsip hidup, dan budi pekerti.
Terdiri atas 4 prinsip yakni Bejuluk Beadok, Nemuy Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, hingga kini falsafah hidup masyarakat dengan semboyan Sai Bumi Ruwa Jurai ini tetap menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Berikut rangkuman penjelasan dari 4 prinsip tersebut.
Baca Juga: Gempa 5,4 M Guncang Barat Daya Sumatera, Terasa di Banten dan Lampung
1. Bejuluk Beadok