jelajah

Terancam Punah, 2 Ritual Unik Pemuda-Pemudi di Sumatera Selatan dan Lampung ini Jadi Warisan Budaya yang Sangat Jarang Diketahui

Kamis, 28 Agustus 2025 | 21:10 WIB
Tradisi Ningkukan yang diikuti pemuda-pemudi Sumatera Selatan sebagai ajang mempererat persaudaraan dan mencari jodoh. (Youtube.com/Bidang Kebudayaan Disdikbud Banyuasin)

Tidak jauh berbeda dengan Ningkuk/Ningkukan di Sumatera Selatan, kegiatan Ningkok di Lampung juga dilakukan beriringan dengan upacara adat pernikahan. Biasanya dilakukan setelah seluruh rangkaian acara inti selesai.

Peserta Ningkok adalah Muli Mekhanai (sebutan untuk pemuda dan pemudi dalam masyarakat Lampung) setempat yang terlibat dalam perayaan pernikahan adat tersebut.

Muli Mekhanai akan saling duduk berhadapan dan bertukar selendang dengan diiringi musik. Peserta yang memegang selendang saat musik dimatikan akan mendapatkan hukuman.

Hukuman yang diberikan berupa tantangan kreatif seperti menyanyi, menari, atau berbicara dalam bahasa daerah.

Kegiatan Ningkok juga biasanya dibarengi dengan acara Ngebubur, yaitu kegiatan bersama-sama untuk memasak dan memakan bubur.

Meski sebagai ajang bertemunya pemuda dan pemudi, pelaksanaan Lempar Selendang ini dilaksanakan secara tertib dan menjunjung tinggi norma kesopanan. Ada ketentuan-ketentuan yang harus diikuti oleh peserta, seperti diharuskan memakai pakaian yang sopan dan rapi, serta tidak duduk bercampur baur.

Jihan Aulia, Selamah Rabia Qistina dan Nelly Agustina melalui penelitiannya yang berjudul “Eksistensi Budaya Lempar Selendang Muli Mekhanai pada Masyarakat Lampung Pesisir Desa Sukajaya Punduh Kecamatan Marga Punduh Lampung” yang diterbitkan pada 31 Desember 2023 oleh Ibrah: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, sempat mewawancarai tokoh pemuda setempat terkait pelaksanaan kegiatan ini.

“Kami tetap menjaga nilai-nilai kesopanan sepanjang acara berlangsung, di mana untuk Muli Mekhanai diwajibkan menggunakan pakaian yang rapi dan sopan, dan untuk posisi duduknya tidak bercampur baur antara Muli dan Mekhanai,” ungkap pemuda bernama Vandoe yang merupakan ketua pemuda di salah satu dusun Desa Sukajaya Punduh.

Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi Lempar Selendang ini, baik di Sumatera Selatan maupun di Lampung di antaranya adalah sebagai sarana untuk mempererat persaudaraan antar pemuda dan pemudi, melatih kreativitas, hingga sebagai sarana untuk mencari jodoh.

Tidak sedikit dari pemuda dan pemudi yang telah mengikuti kegiatan ini kemudian saling berkenalan hingga berlanjut ke jenjang pernikahan.

Beberapa daerah di Sumatera Selatan dan Lampung masih menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu rangkaian di upacara adat pernikahan mereka, namun seiring dengan perkembangan teknologi, kegiatan ini sudah semakin sulit ditemukan di daerah perkotaan.***

 Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini