Tumpeng megana beserta perlengkapannya menjadi simbol dari Gunung Meru yang sedang diputar oleh Dewa Siwa.
Sementara itu, lilitan sayur kacang panjang yang mengelilingi sajian melambangkan mengenai Naga Antaboga sebagai hewan yang digunakan oleh Dewa Siwa untuk mengaduk Gunung Meru.
Sementara lauk pauk dan sayuran di sekitar sajian digunakan untuk melambangkan isi lautan yang mengitari Gunung Meru.
Bawang merah serta cabai merah yang ditempatkan pada puncak tumpeng menggambarkan nyala api yang menjulang ke langit sebagai akibat dari perputaran Gunung Meru tersebut.
Konsep ini kemudian diwujudkan dalam bentuk tumpeng megana oleh masyarakat Jawa pada masa lampau ketika masyarakat menganut ajaran Hindu.
Tumpeng menjadi salah satu makanan tradisional yang terdapat dalam Serat Centhini, di mana fungsinya yaitu sebagai perlengkapan ritual dari masyarakat.
Tumpeng sebagai Identitas Budaya
Dalam jurnal Pranoto (2024), menyebutkan bahwa budaya tumpeng mengandung nilai-nilai kemartabatan manusia, penghormatan, kekeluargaan, solidaritas, dan nilai sosial.
Jurnal tersebut juga menyebutkan dalam budaya ini, setiap orang memiliki posisi yang sama sebagai kaum manusia sehingga nilai kemartabatan sangat ditekankan.
Budaya tumpeng menjadi salah satu identitas budaya untuk meningkatkan hubungan manusia secara sosial dan meningkatkan hubungan antar sesama keluarga maupun dengan masyarakat sekitar.
Selain itu, budaya tumpeng juga mengandung berbagai nilai spiritual serta religi.
Makna Tumpeng di Masa Kini
Sebagai salah satu makanan tradisional, tumpeng menjadi hidangan yang memiliki makna kearifan lokal yang terus diwariskan sebagai pengingat untuk menjaga nilai-nilai kehidupan serta tradisi leluhur.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini