SketsaNusantara.id - Tumpeng menjadi hidangan nasi yang memiliki makna dan simbolis dalam budaya Jawa.
Bentuk dari tumpeng ini yaitu mengerucut yang melambangkan gunung suci.
Di mana dalam gunung sering dianggap sebagai tempat para dewa dan roh nenek moyang tinggal.
Dalam konteks peringatan, tumpeng melambangkan mengenai kesuburan, keberkahan, serta keharmonisan.
Menurut BPNB Yogyakarta, tumpeng megana digunakan untuk perlengkapan sesaji. Biasanya dibuat ketika orang mempunyai hajatan, yaitu ketika memasang tarub atau tenda hias dalam upacara adat pernikahan.
Penyajian tumpeng biasanya dihiasi dengan lilitan sayur kacang panjang yang diletakkan melingkari makanan hingga ke puncaknya.
Pada bagian atas, makanan diberi bawang merah serta ujung paling atas diletakkan cabai.
Sementara itu, di sisi kanan dan kiri tersusun berbagai sayuran serta lauk pauk yang telah dimasak sebagai menu pendamping.
Seluruh sajian tumpeng ini disajikan di atas tampah atau anyaman bambu dengan bentuk bulat pipih, dengan sebelumnya sudah dilapisi daun pisang terlebih dahulu.
Makna Filosofis Gunung dalam Bentuk Tumpeng
Makna dari tumpeng megana menggambarkan bahwa secara jasmani, manusia belum hadir di dunia, tapi roh sucinya sudah ada dan berada di hadirat Sang Ilahi.
Artikel Terkait
Amed Salt Centre, Sentra Pemasaran Garam Amed Karangasem Bali: Bisnis Petani Garam Berbasis Tradisi yang Terus Lestari
Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UNEJ, Prof Sukatman Sebut Tradisi Lisan Berkontribusi bagi Ketahanan Nasional
8 Tradisi Unik Perayaan Waisak di Berbagai Belahan Dunia: Ada Pindapata di Indonesia hingga Ama-cha di Jepang, Ini Maknanya
Apa itu Pindapata? Tradisi Para Biksu Jelang Waisak, Diwariskan Buddha Sejak Ribuan Tahun Lalu dan Dapat Sambutan Hangat Umat Antaragama di Indonesia
Bikin Banyak Wanita Iri Karena Mandi Duit Bergepok-Gepok, Intip Tradisi Unik Pernikahan Suku Kalabari di Nigeria