SketsaNusantara.id - Arus waktu yang deras berputar bisa mengubah bagaimana sebuah kota menjalankan kehidupannya.
Pun dengan Balige yang tenang, sebuah kecamatan kecil di tepi Danau Toba yang cukup sering jadi objek wisata karena lokasinya.
Namun, ada beberapa hal yang kerap lestari di daerah tersebut, seperti budaya setempat maupun rutinitas yang menempel di masyarakat.
Balige lebih dari sekadar tempat wisata. Menyusuri kota Balige, tercipta kesan melankolis saat mengamati budaya yang tidak terkikis waktu. Jiwa pun tenggelam dalam kenangan akan masa yang telah lalu.
Contohnya adalah pasar tradisional yang sejak dulu menjadi pusat perekonomian di wilayah tersebut.
Disebut juga sebagai Onan Balige, pasar tradisional ini menjadi titik kumpul strategis para pedagang setempat maupun dari berbagai penjuru daerah, terutama setiap hari Jumat.
Banyak yang jauh-jauh melabuhkan kapal dan perahu di tepi dermaga Balige demi mencari nafkah dengan menjejerkan hasil panen dari tanah yang subur seperti berbagai sayuran, rempah-rempah, dan buah.
Uniknya pasar tersebut, ia dinaungi oleh Balerong yang berderet hingga enam buah bangunan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Tobaria.com, Balerong-balerong ini merupakan peninggalan bersejarah dari zaman kolonial Belanda.
Awalnya, Balerong ini digunakan sebagai tempat pertunjukan teater dan opera Batak sebelum dialihfungsikan menjadi pasar tradisional pada tahun 1942 setelah minggatnya Belanda dari Tanah Air.