Selain belajar baca tulis, perempuan juga diajarkan pelajaran seni, budaya, dan keterampilan praktis, seperti menjahit dan memasak, untuk membekali siswa perempuan agar mandiri.
Sebagai pegiat pergerakan perempuan, Nyi Hajar terlibat dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang hak dan peran perempuan di masyarakat.
Ia mendukung gagasan bahwa perempuan harus memiliki akses ke pendidikan dan kesempatan untuk berkontribusi pada pembangunan bangsa denagn berperannya sebagai pengajar di Wanita Taman Siswa.
Saat Ki Hajar Dewantara meninggal, perjuangannya terus berlanjut dengan menjadi pemimpin umum Taman Siswa hingga akhir hayatnya.
Nyi Sutartinah ikut serta dalam mendirikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa pada tahun 1960 dan menjabat sebagai rektor pada tahun 1965.
Nyi Hajar Dewantara wafat pada 16 April 1971, meninggalkan warisan sebagai pendidik, pendamping, dan pejuang emansipasi wanita.
Perannya dalam Taman Siswa dan pergerakan perempuan melengkapi perjuangan Ki Hajar, menjadikan keduanya pasangan yang saling menguatkan dalam misi memajukan pendidikan Indonesia.
Oleh karena itu, Hardiknas 2025 bukan hanya momen mengenang Ki Hajar Dewantara, tetapi juga menghargai perjuangan RA Sutartinah dalam memajukan pendidikan untuk membentuk generasi bangsa yang merdeka dan berdaulat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini