SketsaNusantara.id - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya di bidang pendidikan dan kesetaraan gender.
Kartini dikenal sebagai sosok cerdas dan visioner, yang gagasannya masih relevan hingga kini. Kisahnya memperjuangkan emansipasi wanita tak luput dari dukungan seorang pria yang juga menjadi pendamping hidupnya, Raden Adipati Joyodiningrat.
Lantas, siapakah suami Kartini ini sebenarnya? Bagaimana peran sang suami dalam membantu Kartini memperjuangkan kesetaraan hak-hak perempuan di Indonesia?
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku "Sisi Lain Kartini" yang diunggah di situs Museum Kebangkitan Nasional Kemdikbud RI, suami RA Kartini merupakan Bupati Rembang yang sudah memiliki 2 istri dan 7 orang anak.
Perjalanan hidup Kartini tidaklah mudah. Setelah menjalani masa pingitan dan mengalami tekanan budaya yang membatasi peran perempuan, Kartini tetap mempertahankan semangatnya untuk belajar dan memperjuangkan kemajuan bangsanya.
Ketika akhirnya bisa mulai mendirikan sekolah di Pendopo Kabupaten pada bulan Juni 1903, perhatian Kartini pecah ketika Raden Adipati Joyodiningrat membawa surat lamaran.
Kartini yang awalnya berpendirian untuk tidak menikah kemudian menerima lamaran RM Joyodiningrat. Ia menikah pada tahun 1903 ketika Bupati Rembang itu berusia sekitar 50 tahun.
Banyak yang mengira cita-cita Kartini akan terhenti setelah menikah, namun ternyata justru sebaliknya. Raden Adipati Joyodiningrat adalah sosok pria bangsawan Jawa yang berpikiran maju dan tak hanya menjadi suami, tapi juga menjadi pendukung utama perjuangan Kartini.
Setelah menikah, Kartini diajak pindah ke Rembang dan mendapat kebebasan dari sang suami untuk melanjutkan kegiatannya di bidang pendidikan.
RM Joyodiningrat juga menepati janjinya kepada Kartini sebelum menikah. Ia memberikan kebebasan pada sang istri untuk tetap berkarya, membuka sekolah, dan mengajar, seperti yang telah Kartini lakukan di Jepara.
Bahkan, dengan dukungan Joyodiningrat, Kartini mendirikan sekolah keputrian di Rembang. Langkah ini menjadi wujud nyata semangat emansipasi yang Kartini perjuangkan.