SketsaNusantara.id - Nama adalah doa yang diberikan orang tua kepada anaknya.
Ada banyak pertimbangan ketika seseorang memberikan nama kepada anak-anaknya.
Tak sedikit dalam satu kata terkandung makna yang sangat dalam sebagai harapan dan doa dari orang tua.
Tahukah kamu sebelum TV dan radio hadir dan mudah diakses masyarakat, ada cara unik yang dilakukan orang Jawa dalam memberi nama kepada anaknya.
Cara ini bahkan syarat akan makna dan penuh pengharapan dari kedua orang tua.
Merujuk pada artikel karya Prof. Sahid Teguh Dosen Sastra Jawa dari UNS yang berjudul Konstruksi Nama Orang Jawa Studi Kasus Nama-Nama Modern di Surakarta, pemberian nama orang Jawa dari tahun ke tahun ternyata telah mengalami pergeseran.
Pada tahun 1940 - 1950-an nama-nama orang Jawa khususnya yang ada di Solo masih menggunakan pakem atau aturan yang tidak tertulis.
Untuk nama anak laki-laki menggunakan unsur kata 'su' seperti Sujarwo, Suradi, Sumadi, Suwito, Sugen, dan lain sebagainya.
Selain unsur kata 'su' para orang tua dahulu juga menggunakan unsur kata dengan akhiran 'min' atau 'o' contohnya Parmin, Sukarmin, Paimin, Sujarmo, Jono, Pono, dan lain sebagainya.
Sedangkan untuk nama anak perempuan sering menggunakan dua nama yang didahului dengan unsur kata 'su' 'sa' 'wi' dan 'sri' contohnya seperti Sumiatun, Suminem, Widuri, Widati, Sri Sukarni, Sri Suwiji, Sri Atun, Sri Yuni dan lain sebagainya.
Ada pula nama anak perempuan yang berakhiran 'em' atau 'ah' seperti Sanem, Lasiyem, Sukinem, Supinah, Sukinah, dan lainnya.
Untuk nama-nama anak yang menggunakan istilah Islam akan disesuaikan dengan lidah orang Jawa, contohnya Khasan menjadi Kasan, Mukmin menjadi Mukimin.