Mulder yang pindah ke Bandung pada tahun 1920, kemudian menyerahkan propertinya kepada Weissenborn, dimana perusahaan itu dibuah menjadi 'Foto Lux' .
Hingga pada tahun 1930, ia mendirikan 'Lux Fotograaf Atelier NV' berjalan selama satu dekade di Garut.
Karya-karya Weissenborn memiliki ciri khas berupa kualitas liris serta menangkap menangkap alam lanskap yang indah.
Ia terkenal atas foto-fotonya yang memperlihatkan interior arsitektural, lanskap, dan potret industri pariwisata.
Bahkan, sejumlah karyanya pernah dimuat dalam panduan pariwisata Belanda terbitan 1922 yang bertajuk 'Come to Java'.
Weissenborn juga melakukan perjalanan ke seluruh Hindia Timur, terutama ketika memotret alam Bali.
Ia menangkap alam eksotis pulau-pulau yang ada disana dengan tetap mempertahankan martabat penduduk setempat yang difoto.
Mirisnya, beberapa fotonya kadang digunakan dalam sebuah novel Perancis yang berjudul " L'Île des seins nus" atau Pulau Payudara Telanjang.
Potret tersebut salah satunya adalah dua wanita yang tengah berjalan sambil membawa air dengan pot di kepalanya.
Kemudian gambarnya juga berubah dari gambar berpakaian sebagian menjadi gambar gadis penari yang lebih artistik.
Foto itu ditampilkan dalam majalah Inter-Ocean, Sluyter’s Monthly dan Tropical Netherlands yang mempromosikan Bali secara lebih beradab ke wisatawan internasional.***