SketsaNusantara.id - Suasana penuh sukacita menyambut Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, terasa di seluruh penjuru negeri.
Dalam perayaan hari kemenangan ini, selain gema takbir, lagu-lagu bertema hari raya juga ikut menggema di berbagai tempat, mulai dari media sosial, televisi, hingga radio.
Di antara sekian banyak lagu Lebaran, karya Ismail Marzuki yang berjudul "Hari Lebaran" menjadi salah satu yang paling ikonik dan tak lekang oleh waktu.
Lagu karya Ismail Marzuki ini tidak hanya membawa nuansa kebahagiaan, tetapi juga menyimpan makna tersirat sebagai sindiran kepada para penguasa negeri.
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @gnfi, lagu Hari Lebaran pertama kali dipopulerkan oleh grup 5 Seirama di Radio Republik Indonesia (RRI) pada tahun 1952.
Lagu ini menggambarkan suasana Lebaran pada awal tahun 1950-an, masa di mana Indonesia baru saja merdeka dan masih berjuang membangun stabilitas sosial-ekonomi.
Baca Juga: Lebaran 2025 di Yogyakarta? Ini 5 Tempat Wisata yang Harus Masuk dalam Daftar Destinasi
Lagu ini dibuat dengan dengan alunan nada yang menggambarkan kegembiraan masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Di balik melodi yang ceria dann lirik yang sederhana, Ismail Marzuki menyisipkan pesan-pesan yang mencerminkan realitas masyarakat kala itu.
Pada awalnya, lagu ini memang menggambarkan sukacita masyarakat menyambut Hari Lebaran setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa.
Namun, jika diperhatikan lebih dalam, ada beberapa bagian lirik yang mengandung sindiran tajam.
Salah satunya adalah potongan lirik, "Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin."
Kalimat ini terdengar seperti ucapan selamat yang tulus, tetapi sebenarnya merupakan kritik pedas kepada pemerintah pada masa itu.