Berdasarkan hasil penelitian seorang ilmuwan asal Belanda, Hermanus Johannes de Graaf, ada hubungan erat tentang ketupat dengan Sunan Kalijaga.
Baca Juga: Tidak Mudik saat Lebaran 2025? Ini 7 Tips Agar Anak Kos Tetap Happy!
Diyakini oleh sang ilmuan, ketupat merupakan salah satu sarana untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga.
Ketupat pertma kali diperkenalkan kepada masyarakat oleh sang Wali Songo dengan mengajak masyarakat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.
Kesabaran dan ketelitian menganyam ternyata memiliki makna tersendiri. Usai jadi anyaman ketupat, diisi dengan beras.
Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat pada saat itu setelah bulan Ramadhan berakhir dan menjadi sajian perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Dari sumber lain menyatakan bahwa ketupat sudah ada sejak sebelum Islam masuk ke Indonesia.
Masyarakat Indonesia kuno terutama di wilayah Jawa dan Bali menggantungkan ketupat di pintu rumh sebagai wujud syukur kepada dewi padi.
Penjelasan di atas merupakan lambang dan penjelasan berdasarkan mitologi Hindu yang kental dianut masyarakat Indonesia sebelum Islam masuk ke nusantara.
Setelah Islam menyebar di Indonesia, ketupat tidak lagi digunakan untuk pemujaan dewi padi, melainkan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan.
Dikutip dari buku karya De Graaf 'Malay Annual', ketupat simbol perayaan hari raya Islam pada masa Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah di awal abad ke-15.
Kata ketupat berasal dari bahasa Jawa 'kupat' atau 'ngaku lepat' yang artinya mengakui kesalahan.