Senin, 13 Juli 2026

Terowongan Legendaris Tulungagung: Cikal Bakal Neyama Romusha, Kisah Pilu 20.000 Pekerja Paksa yang Abadi hingga Kini

Photo Author
Erik Kusmiati, Sketsa Nusantara
- Kamis, 8 Agustus 2024 | 08:50 WIB
Terowongan legendaris Neyama di Tulungagung yang megah. (Instagram @jadimaukemana.)
Terowongan legendaris Neyama di Tulungagung yang megah. (Instagram @jadimaukemana.)

Pembangunan terowongan ini membutuhkan 20 ribu romusha untuk membuat saluran terbuka. Para romusha ini kemudian meratakan bukit yang berupa bebatuan kapur.

Baca Juga: Andre Taulany Kejutkan Publik Usai Gugat Cerai Rien Wartia, Inikah Alasan Pisah dengan Sang Istri Setelah 18 Tahun Berumah Tangga?

Kendala yang dilalui saat pembangunan terowongan adalah minimnya bahan peledak dan tidak adanya bulldoser, juga banyaknya hewan buas sehingga seluruh pekerjaan dilakukan manual dengan tenaga manusia juga peralatan sederhana dari desa.

Pembuatan terowongan ini juga sempat terbantu oleh adanya temuan 23 bom yang ditanam oleh para tentara Belanda di sekitar rawa-rawa.

Kisah kelam lainnya adalah para pekerja romusha tidak diberikan makanan dan minuman juga upah  yang memadai.

Baca Juga: Bawaslu Kota Malang Petakan Potensi Konflik dan Kerawanan Pilkada 2024, M. Arifudin: Ada 5 Titik Rawan Konflik

Selain itu, banyaknya serangan nyamuk malaria yang mematikan, banyak juga para pekerja paksa yang meninggal dunia karena kelelahan dan kelaparan.

Akhirnya melalui berbagai kisah pilu dan banyaknya korban jiwa dari para pekerja paksa tersebut, terowongan di Tulungagung ini selesai dibangun pada tahun 1944 dan diberi nama Terowongan Neyama.

Karena dirasa terowongan Neyama belum maksimal dalam menguras banjir di Tulungagung, di masa orde baru kemudian dibangun Neyama dua yang diresmikan pada tahun 1986.

Sampai saat ini terowongan megah ini masih bekerja dengan sangat baik untuk mengatasi banjir di Sungai Brantas yang sering terjadi di wilayah Tulungagung.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.idKLIK DI SINI

 

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X