Lebih dari seratus tahun yang lalu, seorang pastor Belanda bernama Jan Smith melakukan misi penyebaran Injil di pedalaman suku Asmat, Papua.
Meski menghadapi banyak tantangan, ia tetap gigih hingga akhirnya tewas secara misterius.
Sebelum wafat, Jan Smith dikabarkan mengatakan bahwa tempat ia meninggal akan selalu lembap, basah, dan tidak bisa dihuni.
Kata-katanya ini kemudian dianggap sebagai kutukan oleh masyarakat setempat, karena wilayah tersebut memang tetap berawa dan berlumpur hingga hari ini.
Baca Juga: Penasaran Gak Sih? Gak Nyangka, Ini Alasan Warga Sunda Jatuh Cinta Sama Kuliner Gurih dan Pedas
Hingga kini, legenda kutukan Jan Smith masih dipercayai oleh warga Agats, dan patungnya berdiri kokoh di pelabuhan kecil kota ini sebagai pengingat akan cerita tersebut.
Terletak di pesisir selatan Pulau Papua, Kota Agats berdekatan dengan Timika di Kabupaten Mimika.
Karena lokasinya, Agats lebih mudah diakses melalui transportasi laut atau pesawat perintis.
Baca Juga: Tidak Hanya Ayam Taliwang, 4 Makanan Khas Sasak Ini Wajib Kamu Coba Saat ke Lombok
Perjalanan laut dari Timika ke Kota Agats memakan waktu 8 hingga 9 jam, sementara perjalanan udara hanya sekitar 45 menit menggunakan pesawat kecil jenis Twin Otter dan Caravan yang bisa menampung 8-10 orang.
Namun, jadwal penerbangan ke Agats terbatas, hanya ada tiga kali penerbangan per minggu dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Bandara Ewer di Asmat memiliki landasan pacu yang pendek, sehingga pesawat besar seperti Hercules dan Boeing tidak bisa mendarat di sana.
Baca Juga: Tidak Hanya Ayam Taliwang, 4 Makanan Khas Sasak Ini Wajib Kamu Coba Saat ke Lombok
Kota Agats, dengan segala keunikan dan tantangannya, tetap menjadi salah satu destinasi menarik di Papua.
Artikel Terkait
5 Spot Terbaik Berburu Sunrise di Indonesia, Ada yang Setinggi 1300 mdpl di Toraja
Nyaris Punah Ditelan Zaman, Beginilah Ritual Tradisional Jawa Menjaga dan Merawat Bumi
Jangan Lewatkan! Liburan Panjang dengan Pesona Pedesaan Eropa di Rustic Market Trawas Mojokerto
Air Terjun Kapas Biru, Destinasi Wisata di Lumajang Satu Ini Cocok Mengisi Waktu Liburan Sekolah, Cuma 10 Ribu
Penuh Filosofi, Asal Usul Sate Klathak Hingga Jadi Makanan Khas Bantul Yogyakarta, Bukan Sekedar Kuliner Biasa