SketsaNusantara.id - Banyak orang mengenal Yogyakarta melalui Malioboro, Keraton, dan Tugu Pal Putih. Namun, tidak semua mengetahui kawasan itu menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan manusia.
Tata Kota Yogyakarta ternyata dirancang dengan konsep khusus sejak abad ke-18. Setiap jalan, bangunan, hingga pepohonan memiliki makna simbolis yang saling terhubung.
Konsep tersebut dirancang langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika membangun Yogyakarta pada 1755. Tata ruang kota itu lahir dari pandangan hidup Jawa yang memadukan manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Baca Juga: 15 Spot Wisata Terpopuler di Yogyakarta untuk Libur Lebaran 2026 dari Pantai hingga Ikon Sejarah
Keraton Yogyakarta dibangun dengan mengacu pada bentang alam sekitar. Gunung Merapi dan Laut Selatan menjadi bagian penting dalam konsepsi tersebut.
Prinsip utama pembangunan keraton menggunakan konsep Hamemayu Hayuning Bawono. Konsep itu memiliki arti menjaga keindahan dan keselamatan alam kehidupan.
Poros utama Yogyakarta terbentang dari Panggung Krapyak hingga Tugu Golong Gilig. Jalur tersebut dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.
“Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan konsepsi Jawa dengan mengacu pada bentang alam yang ada, seperti gunung, laut, sungai, serta daratan,” dikutip dari Kratonjogja.id.
Perjalanan dari Panggung Krapyak menuju keraton melambangkan asal kehidupan manusia. Jalur itu menggambarkan proses kelahiran hingga manusia tumbuh dewasa.
Panggung Krapyak sendiri dahulu digunakan Sultan untuk berburu rusa. Namun secara simbolis, bangunan itu melambangkan rahim atau awal kehidupan manusia.
Di sekitar kawasan itu terdapat kampung bernama Mijen. Nama tersebut berasal dari kata wiji atau benih.
Pepohonan di sepanjang jalur juga dipilih dengan makna tertentu. Pohon asam melambangkan anak muda, sedangkan tanjung bermakna sanjungan lingkungan sekitar.
Semakin ke utara, simbol kehidupan manusia semakin terlihat jelas. Alun-Alun Selatan melambangkan fase kedewasaan manusia.
Artikel Terkait
Ada yang Pernah Dibakar Belanda hingga Ludes! Inilah 4 Masjid Pathok Negara Yogyakarta yang Wajib Jadi Destinasi Wisata Religi Selama Ramadhan 2026
Wajib Coba saat Ramadhan 2026, Inilah 5 Jajanan Tradisional Yogyakarta Favorit untuk Takjil yang Manis, Hangat, dan Mengenyangkan
Daya Tarik Desa Wisata Sermo Kulon Progo, Waduk Legendaris Yogyakarta dengan Panorama Alam dan Aktivitas Wisata Lengkap
Desa Wisata Panjangrejo Bantul, Jejak Awal Gerabah Yogyakarta dari Pundong dengan Inovasi Cover Artistik dan Spot Selfie Ikonik
2 Dekade Kolaborasi Riset Menumbuhkan Pusat Edukasi di Museum Gumuk Pasir Parangtritis Yogyakarta