Senin, 29 Juni 2026

Banyak Orang Tak Sadar, Setiap Jalan di Yogyakarta Ternyata Menyimpan Filosofi Kehidupan dan Kematian Manusia

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 11 Mei 2026 | 21:00 WIB
Makna filosofis setiap jalan di Yogyakarta. (kratonjogja.id)
Makna filosofis setiap jalan di Yogyakarta. (kratonjogja.id)

SketsaNusantara.id - Banyak orang mengenal Yogyakarta melalui Malioboro, Keraton, dan Tugu Pal Putih. Namun, tidak semua mengetahui kawasan itu menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan manusia.

Tata Kota Yogyakarta ternyata dirancang dengan konsep khusus sejak abad ke-18. Setiap jalan, bangunan, hingga pepohonan memiliki makna simbolis yang saling terhubung.

Konsep tersebut dirancang langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I ketika membangun Yogyakarta pada 1755. Tata ruang kota itu lahir dari pandangan hidup Jawa yang memadukan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga: 15 Spot Wisata Terpopuler di Yogyakarta untuk Libur Lebaran 2026 dari Pantai hingga Ikon Sejarah

Keraton Yogyakarta dibangun dengan mengacu pada bentang alam sekitar. Gunung Merapi dan Laut Selatan menjadi bagian penting dalam konsepsi tersebut.

Prinsip utama pembangunan keraton menggunakan konsep Hamemayu Hayuning Bawono. Konsep itu memiliki arti menjaga keindahan dan keselamatan alam kehidupan.

Poros utama Yogyakarta terbentang dari Panggung Krapyak hingga Tugu Golong Gilig. Jalur tersebut dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta.

Baca Juga: Kampoeng Bathok Santan Yogyakarta: Surga Kerajinan Tempurung Kelapa dan Wisata Kuliner Wader Goreng yang Menggoda

“Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan konsepsi Jawa dengan mengacu pada bentang alam yang ada, seperti gunung, laut, sungai, serta daratan,” dikutip dari Kratonjogja.id.

Perjalanan dari Panggung Krapyak menuju keraton melambangkan asal kehidupan manusia. Jalur itu menggambarkan proses kelahiran hingga manusia tumbuh dewasa.

Panggung Krapyak sendiri dahulu digunakan Sultan untuk berburu rusa. Namun secara simbolis, bangunan itu melambangkan rahim atau awal kehidupan manusia.

Di sekitar kawasan itu terdapat kampung bernama Mijen. Nama tersebut berasal dari kata wiji atau benih.

Pepohonan di sepanjang jalur juga dipilih dengan makna tertentu. Pohon asam melambangkan anak muda, sedangkan tanjung bermakna sanjungan lingkungan sekitar.

Semakin ke utara, simbol kehidupan manusia semakin terlihat jelas. Alun-Alun Selatan melambangkan fase kedewasaan manusia.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kratonjogja.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X