SketsaNusantara.id - Kuliner tradisional Indonesia tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga nilai sejarah dan filosofi yang menyertainya. Salah satu contohnya adalah Caos Dhahar Lorogendhing, hidangan khas Kadilangu, Demak, yang memiliki keterkaitan erat dengan sosok Sunan Kalijaga.
Makanan ini dikenal sebagai salah satu kuliner favorit Sunan Kalijaga, tokoh penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Hingga kini, Caos Dhahar Lorogendhing tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari tradisi budaya dan spiritual.
Secara etimologi, “Caos Dhahar” dalam bahasa Jawa berarti menyajikan makanan, sedangkan “Lorogendhing” merujuk pada beragam jenis hidangan yang disusun dalam satu sajian lengkap. Nama tersebut mencerminkan konsep kebersamaan dan keberagaman dalam satu wadah.
Baca Juga: Mudik ke Jember dan Mau Makan Pecel Maknyus? Inilah 4 Tempat Kuliner Pecel yang Wajib Anda Coba
Kuliner ini memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa Kesultanan Demak. Pada masa itu, hidangan ini kerap disajikan sebagai bentuk penghormatan kepada Sunan Kalijaga, yang dikenal dengan pendekatan dakwah yang menyatu dengan budaya lokal.
Dilansir SketsaNusantara.id dari demak.go.id, Caos Dhahar Lorogendhing terdiri dari berbagai makanan tradisional khas Jawa. Sajian ini biasanya meliputi nasi golong, urap daun mengkudu, trancam berbahan terong dan kacang panjang, sayur bening daun kelor, serta bubuk kedelai.
Untuk lauk-pauk, hidangan ini dilengkapi dengan ayam bakar, pecel lele, serta ingkung ayam jago. Kombinasi tersebut tidak hanya menghadirkan cita rasa yang khas, tetapi juga mencerminkan kekayaan bahan pangan lokal.
Menariknya, proses pembuatan kuliner ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Masyarakat setempat meyakini bahwa makanan ini harus disiapkan dalam kondisi suci, baik secara lahir maupun batin. Hal ini menunjukkan bahwa Caos Dhahar Lorogendhing tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari ritual sakral.
Hingga saat ini, hidangan tersebut biasanya disajikan dalam momen-momen tertentu, seperti acara tasyakuran atau ritual keagamaan. Salah satu tradisi yang masih dijaga adalah penyajian Caos Dhahar Lorogendhing saat prosesi jamasan pusaka di kawasan Makam Sunan Kalijaga.
Jamasan pusaka merupakan ritual pembersihan benda-benda peninggalan Sunan Kalijaga yang dilakukan setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Setelah prosesi tersebut, masyarakat menggelar tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran acara.
Dalam momen itulah Caos Dhahar Lorogendhing disajikan, biasanya diiringi dengan doa dan tahlil bersama. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.
Setiap komponen dalam hidangan ini juga memiliki makna filosofis. Kesederhanaan bahan mencerminkan nilai hidup yang tidak berlebihan, sementara keberagaman lauk menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam kehidupan sosial.
Artikel Terkait
Mie Lethek Mbah Jumal Sewon, Kuliner Malam Favorit Yogya dengan Sajian Legit, Porsi Besar, dan Harga Irit yang Selalu Diburu
Kampoeng Bathok Santan Yogyakarta: Surga Kerajinan Tempurung Kelapa dan Wisata Kuliner Wader Goreng yang Menggoda
3 Ide Konten Media Sosial yang Cocok Selama Bulan Ramadhan 2026, Kuliner Jadi yang Utama?
Soto Kerbau Jember, Lebih dari Sekadar Kuliner, Ada Jejak Toleransi dalam Tiap Mangkuknya
Tradisi Malam Slawe dan Kupat Ketheg, Kuliner Khas Gresik yang Melekat dengan Jejak Dakwah Sunan Giri