Kamis, 4 Juni 2026

Kampung Wisata Tamansari Jogja, Warisan Sejarah Kraton yang Tumbuh Menjadi Destinasi Budaya dan Kampung Cyber

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 8 Januari 2026 | 20:30 WIB
Tamansari di Yogyakarta. (Pexels/Rafli )
Tamansari di Yogyakarta. (Pexels/Rafli )

SketsaNusantara.id - Kampung Wisata Tamansari berada di Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

Kawasan ini dikenal karena letaknya yang menyatu dengan Obyek Wisata Tamansari atau Water Castle.

Secara kewilayahan, Tamansari berada di dalam kawasan besar Kraton Kasultanan Yogyakarta.

Baca Juga: Tradisi Perak di Jantung Yogyakarta, Inilah Pesona Kampung Wisata Purbayan Kotagede dengan Sejarah Mataram Islam

Posisi tersebut membuat kampung wisata ini berfungsi sebagai wilayah penyangga utama kawasan kraton dan situs wisata bersejarah.

Dilansir SketsaNusantara.id dari Jogjakota.go.id, nama Tamansari diyakini berasal dari pesanggrahan Tamansari yang menjadi bagian penting sejarah Kesultanan Yogyakarta. Keberadaan kampung ini tidak dapat dipisahkan dari fungsi historis pesanggrahan tersebut.

Berdasarkan data dari pihak kraton dan balai pelestarian cagar budaya, kawasan Tamansari dahulu merupakan danau buatan yang luas. Danau tersebut dikenal sebagai segara anakan yang dilengkapi parit dan sungai buatan.

Baca Juga: Ada Wisata Air dan Seni Tradisi, Kampung Wisata Kricak di Utara Kota Yogyakarta Jadi Destinasi Alternatif

Sungai buatan itu menghubungkan Tamansari dengan bangunan pusat kraton melalui kawasan segaran. Sistem ini menunjukkan fungsi strategis Tamansari pada masa lalu.

Pesanggrahan Tamansari dibangun pada 1758 Masehi. Pembangunan tersebut ditandai dengan candra sengkala catur naga rasa tunggal.

Pembangunan pesanggrahan dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pelaksanaan pembangunan dipercayakan kepada Bupati Madiun Raden Rangga Prawirasentika.

Sementara itu, pekerjaan konstruksi ditangani oleh Bupati Kyai Tumenggung Mangoendipoero. Tamansari sejak awal memiliki fungsi pertahanan secara fisik.

Di sisi lain, pesanggrahan ini juga mengandung nilai filosofi mendalam. Nilai tersebut tergambar dari keberadaan taman dan kolam sebagai simbol kesenangan duniawi.

Di dalam kawasan yang sama terdapat bangunan utama bernama Sumur Gumuling. Bangunan ini dilengkapi mihrab yang digunakan untuk kegiatan ibadah.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Jogjakota.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X