Setelah Sultan Alauddin mangkat, muncul perubahan besar dalam tata kekuasaan Aceh. Penerusnya adalah salah satu putranya bernama Husein. Dua putra lainnya sebelumnya telah menduduki posisi sebagai Sultan Aru dan
Sultan Pariaman dengan gelar Sultan Ghari dan Sultan Mughal. Penunjukan Husein sebagai pengganti memunculkan kecemburuan. Sultan Barus juga menunjukkan ketidaksenangan yang sama. Ketegangan ini berkembang menjadi perlawanan terbuka.
Dalam pertempuran berikutnya, Sultan Husein gugur. Sultan Aru juga tewas, sementara Sultan Pariaman tetap hidup. Perpecahan internal ini melemahkan fondasi kekuasaan Aceh.
Banyak daerah yang semula berada dalam pengaruh Aceh memilih melepaskan diri. Lemahnya pengawasan serta meningkatnya intervensi Portugis semakin mempercepat kemunduran kerajaan pada periode penerus Alauddin.
Kondisi ini bertahan hingga munculnya Sultan Iskandar Muda. Pada masanya, kestabilan Aceh kembali pulih.
Ekspansi wilayah dan penguatan pengaruh politik kembali dilakukan sehingga wilayah taklukan Aceh bertambah luas. Pemulihan itu menjadikan Aceh sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Sumatera pada abad tersebut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Anggun dan Menawan! Dian Sastro Tampil Bak Putri Kerajaan Korea di Istana Gyeongbokgung dengan Balutan Hanbok Tradisional
Jaraknya 73 KM dari Candi Prambanan, Pemandian Air Hangat Ini Usianya 400 Tahun Lebih Tua dari Kerajaan Majapahit, di Mana?
Melintasi Waktu di Desa Wotawati Gunungkidul, Dusun Bernuansa Kerajaan Kuno yang Punya Malam Lebih Panjang
Bocor! Undangan Pernikahan Al Ghazali-Alyssa Bergaya Gulungan Kerajaan, Netizen Sentil Ahmad Dhani: Dibajak Mertua Sendiri
5 Fakta Blue Sapphire Maia Estianty di Nikahan Al Ghazali, Perhiasan Mewah Penuh Makna yang Kerap Dipakai Keluarga Kerajaan Mirip Punya Kate Middleton