Minggu, 19 Juli 2026

Rahasia di Balik Pembuatan Perahu Madura: Dari Larangan Kayu Nangka hingga Tali Gelam yang Kuat

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 9 November 2025 | 20:00 WIB
Ilustrasi perahu buatan orang Madura. (Pexels/Min An )
Ilustrasi perahu buatan orang Madura. (Pexels/Min An )

SketsaNusantara.id - Kearifan masyarakat Madura dalam membangun perahu menjadi salah satu warisan budaya maritim yang masih bertahan hingga kini.

Proses pembuatannya tidak hanya melibatkan keterampilan teknis, tetapi juga nilai-nilai tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Bagi orang Madura, perahu bukan sekadar alat transportasi laut. Ia juga simbol kerja keras dan keberanian dalam menghadapi kehidupan di laut.

Baca Juga: 6 Destinasi Wisata Sungai di Indonesia dengan Keindahan Alam yang Asri, Mendayung Perahu atau Arung Jeram di Aliran Air Alami

Karena itu, setiap langkah pembuatannya dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti aturan yang dipercaya secara turun-temurun.

Dalam tradisi tersebut, pemilihan kayu menjadi tahap paling penting. Ada pantangan yang harus ditaati agar perahu tidak membawa kesialan bagi pemilik dan penggunanya.

Kayu Terbaik dan Larangan dalam Pembuatan Perahu

Tidak semua kayu bisa digunakan untuk membuat perahu. Dalam buku Warisan Bahari Indonesia, disebutkan bahwa para pengrajin Madura percaya bahwa kayu memiliki "jiwa", sehingga pemilihannya harus dilakukan dengan cermat.

Baca Juga: Perahu Literasi BRI Peduli Hadir di Tolitoli, Jawab Keterbatasan Pendidikan di Wilayah Pesisir Terluar Indonesia

Kayu yang dilarang dipakai antara lain kayu nangka, kayu yang memiliki mata kayu, dan kayu yang pernah tersambar petir. Kayu semacam itu dianggap membawa nasib buruk atau tidak tahan lama di air laut.

Sebaliknya, bahan utama yang dipilih adalah kayu jati dan kayu camplong. Kedua jenis kayu ini dikenal kuat, tahan air, dan mudah dibentuk. Biasanya, bahan baku dikumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Tidak jarang, kayu jati didatangkan dari daerah Tuban, yang terkenal sebagai penghasil jati berkualitas tinggi.

Tali Gelam dan Dempul Tradisional untuk Kedap Air

Selain kayu, bahan lain yang diperlukan adalah sabut kelapa dan kulit kayu camplong atau yang disebut gelam. Keduanya digunakan untuk membuat tali yang berfungsi menutup celah antar papan badan perahu.

Serat sabut kelapa dipilin bersama gelam hingga membentuk tali kuat. Setelah itu, tali-tali tersebut dimasukkan ke sela-sela papan perahu agar air tidak merembes ke dalam.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Warisan Bahari Indonesia, Bambang Budi Utomo, Pustaka Obor,

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X