Kamis, 4 Juni 2026

Pulau yang 'Tak Pernah Istirahat' sejak 1613, Jadi Saksi Peralihan Kekuasaan dari Banten ke VOC

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 6 November 2025 | 18:30 WIB
Ilustrasi pulau di masa kolonial Belanda. (Pexels/Fabian Wiktor)
Ilustrasi pulau di masa kolonial Belanda. (Pexels/Fabian Wiktor)

Kesepakatan itu memberi izin kepada orang-orang Belanda untuk mengambil kayu di Teluk Jakarta sebagai bahan pembuatan dan perbaikan kapal.

Dari sinilah awal keterlibatan VOC di Kepulauan Seribu.

Melihat banyaknya kapal dagang yang singgah di Asia Tenggara, Belanda pun memilih Pulau Onrust sebagai lokasi pembangunan galangan kapal. Proyek itu dimulai pada tahun 1613, menjadikan Onrust sebagai pusat aktivitas maritim VOC di wilayah barat Nusantara.

Pembangunan Galangan Kapal dan Benteng VOC

Pada tahun 1615, VOC membangun galangan kapal dan gudang kecil di Pulau Onrust. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen kemudian mengubah Onrust menjadi koloni kecil.

Baca Juga: 4 Kuliner Khas Bima Nusa Tenggara Barat yang Sayang untuk Dilewatkan Saat Berwisata di Pulau Sumbawa, Cita Rasa Khas dari Kota Tepian Air

Ia mendatangkan pekerja asal Tionghoa yang dikenal rajin dan terampil, serta membangun tempat tinggal untuk mereka.

Namun, karena meningkatnya ancaman dari Banten dan Inggris pada 1618, fungsi Onrust berkembang menjadi pulau pertahanan.

Dari tahun 1656 hingga 1695, Belanda memperkuat pulau itu dengan benteng segilima lengkap dengan bastion di setiap sudutnya.

Selain benteng, berdiri pula gudang-gudang penyimpanan logam, dua kincir angin di sisi utara, serta dok kapal di bagian selatan pulau.

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1775 terdapat sekitar 1.200 penduduk di Onrust, sebagian besar adalah tukang kayu, tentara, dan pekerja paksa.

“Sebagian besar mereka adalah tukang kayu kapal dan tentara, namun banyak juga awak kapal yang kena hukuman kerja paksa,” demikian disebut dalam catatan sejarah Pulau Onrust.

Pulau yang Tak Pernah Beristirahat

Kegiatan di Onrust nyaris tidak pernah berhenti. Dari pagi hingga malam, kapal-kapal VOC keluar masuk pelabuhan kecil ini untuk diperbaiki atau memuat barang dagangan.

Nama “tanpa istirahat” benar-benar menggambarkan kehidupan di pulau tersebut.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Warisan Bahari Indonesia, Bambang Budi Utomo, Pustaka Obor,

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X