Kesenian ini muncul sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak bisa memiliki akses ke gamelan karawitan karena status sosial.
Menurut mereka, gamelan merupakan alat musik para priyayi dan tak pantas dimainkan masyarakat biasa. Oleh karena itu, masyarakat membuat pertunjukan karawitan versi murah yang diberi nama Glundengan.
Masyarakat di Kampung Jambuan, Antirogo, Jember, masih terus melestarikan kesenian ini, meski di era modern saat ini Glundengan mulai kehilangan pamor.
Popularitas sound horeg yang mendominasi acara-acara anak muda, seperti pesta rakyat atau perayaan, membuat Glundengan tersisihkan.
Anak-anak muda saat ini cenderung lebih tertarik pada alunan musik modern dengan ritme "jedag-jedug" dan suara bass menggelegar seperti sound horeg yang dianggap lebih seru dan enerjik.
Glundengan serasa dianggap "kuno" padahal kesenian ini membumi lebih dulu di Jember sejak puluhan tahun lalu.
Minimnya pertunjukan Glundengan menjadi tantangan besar bagi masyarakat untuk melestarikan kesenian khas Jember ini.
Saat ini hanya tersisa beberapa kelompok glundengan di Jember yang berada di Desa Biting, Desa Kamal-Arjasa dan Antirogo.
Salah satu tokoh yang berjuang melestarikan kesenian ini adalah Cak Syid, seorang seniman Jember yang aktif memperkenalkan Glundengan kepada generasi muda dengan memberikan pelatihan dan pertunjukan yang diadakan tiap tahun.
Cak Syid berupaya menghidupkan kembali kesenian ini dengan menggabungkan elemen modern tanpa menghilangkan akar budayanya.
Pelestarian Glundengan bukanlah tugas mudah. Meski menghadapi tantangan besar, namun semangat komunitas seperti yang ditunjukkan oleh Cak Syid dan kelompok seni di Jember memberikan harapan untuk terus melestarikan budaya lokal.
Beberapa acara budaya, seperti festival dan pameran seni, mulai memasukkan Glundengan sebagai bagian dari pertunjukan untuk menarik perhatian publik.
Media sosial, seperti unggahan di Instagram, juga turut membantu mempromosikan kesenian ini kepada khalayak luas untuk memperkenalkan Glundengan sebagai identitas Jember yang kaya akan sejarah dan nilai budaya. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Ada Batu Ular di Jember? Mengupas Legenda Hewan Buas Raksasa yang Suka Memangsa Kekayaan Laut, Kini Menjadi Sebuah Objek Wisata Paling Nyentrik
Potret Kampung Terpencil di Jember Jaraknya 11,5 Km dari Pusat Kota, Dulu Kebun Cokelat Kini Dikelilingi Tebu
Sederhana Namun Legendaris! Inilah Pasar Tradisional Pinggir Laut di Selatan Kecamatan Ambulu, Jember
Sejak 1980-an, Bangunan di Jember ini Jadi Penjaga Warisan Budaya dan Pusat Edukasi, Tak Hanya Menyimpan Sejarah
Legendaris sejak 1956, Tempat Sarapan di Jember ini Bikin Kangen Masakan Khas Rumahan ala Kuliner Jadul