SketsaNusantara.id - Selain dikenal sebagai Kota Ukir dan tempat kelahiran pejuang wanita, yaitu RA Kartini, kota Jepara ternyata menyimpan beberapa hal unik.
Dilansir SketsaNusantara.id dari website Bapenda Jateng, kota ini mempunyai asal nama Ujung Para, Ujung Mara, dan Jumpara.
Kemudian kata tersebut berubah menjadi Jepara yang artinya tempat bermukim pedagang ke berbagai daerah.
Baca Juga: Taman Siswa Warisan Ki Hadjar Dewantara Sudah Jadi Sekolah Revolusioner sejak Zaman Kolonial Belanda
Sebagai salah satu kawasan Pantai Utara, Jepara memiliki berbagai tradisi atau mitos unik.
Berikut beberapa tradisi dan kepercayaan unik yang ada di kota ini.
1. Tradisi Lomban pada 8 Syawal
Lomban merupakan tradisi yang diselenggarakan setiap 8 Syawal penanggalan Islam, Tepatnya 8 hari setelah hari raya Idul Fitri.
Baca Juga: 5 Fakta Kampung Unik di Gunungkidul! Tawarkan Suasana Otentik, Seakan Berada di Zaman Majapahit
Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil laut.
Pada bahasa sehari-hari orang Jepara menyebutnya sebagai 'Bodo Kupat'.
Pemberian nama itu terjadi karena masyarakat merayakannya dengan menikmati hidangan kupat dan lepet.
Selain menikmati kedua hidangan tersebut, masyarakat Jepara juga biasanya menghabiskan waktu dengan bermain di pantai.
Artikel Terkait
Masih Aktif Setelah 100 Tahun! Salah Satu Pabrik Tertua di Jember Ini Jadi Penopang Ekspor Pertanian dan Perikanan di Bumi Pandhalungan
Kangen dengan Cemilan Jadul, Warung Cemilan Cihapit di Pasar Cihapit Bandung Bisa Mengobati Rasa Rindu Itu
Modal 10 Ribu Sudah Bisa Makan Enak di Bali, Emang Beneran Ada? Blusukan ke Pasar Wilayah Denpasar, Ada Kuliner Khas Pulau Jawa yang Ngangenin
Bisa Ambil Nasi Sepuasnya Kalau Masih Laper! Di Sini Warung Ala Prasmanan yang Terkenal di Surabaya, Ada Olahan Mentok Sampai Lodeh Lompong
Siapa Istri Ki Hajar Dewantara? Mengenal RA Sutartinah yang Berjasa dalam Memajukan Pendidikan Wanita Indonesia, Satu Angkatan dengan RA Kartini?
Serunya 'Blusukan' di Pasar Ngasem Yogyakarta, Menikmati Kuliner Tradisional di Bekas Pasar Burung Berusia 200 Tahun Lebih