Ia pun dipaksa untuk mengikuti tradisi yakni menikah di usianya yang masih belia.
Saat dipingit, semangatnya dalam mencari ilmu pengetahuan tetap menyala.
Ia mulai belajar sendiri hingga menulis surat kepada teman-temannya dari Belanda.
Kumpulan surat-suratnya itulah yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Dari Kegelapan Menuju Cahaya pada tahun 1911.
Buku tersebut kemudian diterbitkan dalam bahasa Melayu pada tahun 1922 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.
Dalam surat-suratnya tersebut, Kartini menuliskan pemikiran-pemikirannya, termasuk mengenai tradisi penikahan paksa hingga pendidikan bagi anak perempuan.
Surat-surat tersebut juga berisi keluhan dan protes Kartini terhadap budaya Jawa yang dipandang menghambat kemajuan perempuan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Sejarah dan Makna Cublak-Cublak Suweng: Lagu Permainan Anak yang Jadi Media Dakwah Sunan Giri untuk Menyebarkan Pesan Anti korupsi di Tanah Jawa
Sejarah dan Makna Grebeg Syawal: Tradisi Lebaran di Yogyakarta sebagai Wujud Syukur Menyambut Hari Raya Idul Fitri
Kenapa Paskah Identik dengan Telur? Mengupas Sejarah dan Makna dari Telur Paskah pada Peringatan Kebangkitan Yesus
Asal Usul Duit Mata Uang Sebelum Rupiah Datang, 120 Duit Setara Rp 1, Dicetak di Surabaya