Kamis, 4 Juni 2026

Lokasinya Ada di Depan Alun-Alun, Inilah Sejarah dan Fakta Masjid Jami Al Baitul Amien yang Disebut Sebagai Masjid Tertua di Jember

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Jumat, 28 Maret 2025 | 21:55 WIB
Suasana di depan Masjid Jami Al Baitul Amien Jember (SketsaNusantara.id/ Sigit Gita Pamuji)
Suasana di depan Masjid Jami Al Baitul Amien Jember (SketsaNusantara.id/ Sigit Gita Pamuji)

SketsaNusantara.id- Masjid Jami Al Baitul Amien Jember merupakan masjid tertua di Jember. Masjid ini menyimpan banyak sejarah di dalamnya.

Tak hanya itu, masjid ini juga memiliki bentuk dan arsitektur yang berbeda dengan tempat ibadah umat muslim pada umumnya.

Bentuk Masjid Jami Al Baitul Amien juga sekilas mirip dengan Gedung MPR DPR RI di Jakarta.

Baca Juga: DPC Gerindra Jember Gelar Silaturahmi dengan Kader, Ahmad Halim: Kami Mendukung Program dan Kebijakan Pemerintah Daerah yang Pro Rakyat

Berdasarkan penelusuran SketsaNusantara.id, tidak ada catatan resmi mengenai tanggal berdirinya masjid ini. Kendati demikian, terdapat dokumen Pemerintah Belanda hanya menyebutkan bangunan masjid itu berdiri di atas tanah eigendom verpoding Nomor 981 tertanggal 19 Desember 1894 dengan luas 2.760 meter persegi.

Diketahui dalam catatan takmir Masjid Jami Al Baitul Amien, masjid tersebut pernah direnovasi pada 1939 dan kemudian diperbarui lagi pada tahun 1973. Masjid ini kemudian diresmikan pada 03 Mei 1976.

Menariknya, setiap bulan dua kali, masjid itu memberikan sejumlah bantuan kepada fakir, miskin, dhuafa, dan janda sebatangkara melalui lembaga amil zakat, infak, dan sedekah.

Baca Juga: Cuma 10 Ribu! Keindahan di Bukit Samboja Jember bak Surga Tersembunyi dengan Panorama Istimewa

"Kegiatan peduli janda ini kami secara bergantian memberikan bantuan berupa sembako dan juga pemberdayaan ekonomi dalam bentuk permodalan (usaha) serta pendampingan langsung untuk kemajuan usahanya," kata takmir Masjid, Hasin, Jumat 28 Maret 2025.

Masjid ini memiliki tujuh buah kopel berbentuk bundar. Makna filosofisnya ialah menggambarkan luasnya kebutuhan umat manusia tanpa dibatasi sudut- sudut tertentu. Gambaran kebutuhan itu tertuang dalam bentuk kubah yang menutupi hampir keseluruhan badan bangunan.

Pemilihan bentuk bundar muncul dari kesadaran bahwa bentuk ini mempengaruhi semua agama dan tradisi.

Baca Juga: Bule Aja Suka! 5 Warung Legendaris di Jember, Kuliner Khas Kota Tembakau yang Patut Dicoba, Ada Gudeg Dicampur Pecel?

Masjid tersebut memiliki tujuh kubah sebagai simbol kekuasaan Allah SWT yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.

“Jumlah kubah sebanyak tujuh kubah merupakan simbol dari kemantapan,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X