“Sekali lagi, saya dengan kerendahan hati ingin memohon maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Grobogan khususnya, dan masyarakat se-Indonesia terkait dengan video yang viral di media sosial. Dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi,” pungkasnya.
Kolom komentar media sosial pun dibanjiri pendapat warganet yang tak ingin ucapan arogansi dari perangkat hanya berakhir klarifikasi saja. Tak sedikit yang mendesak agar harta kekayaan perangkat desa diaudit oleh lembaga berwenang.
“Masa nga di audit sih,” tulis akun @muhammadrifikifauzi.
“Tes ombak ehh malah di gulung ombak,” sindir akun @ah_males.
“Nah iya kan klarifikasi, gak ingat perkataan pas naik mobil ya pak, dgn PD nya,” ujar akun @aldhanay.
“Salah --> klarifikasi --> dilupakan --> diulang lagi,” kritik akun @kepalakeluaraga.id.
“Patut dipertanyakan harta kekayaannya,” celetuk akun @gusnanita.
“@official.kpk ga niat audit perangkat desa,” sahut akun @mbaiisda.
“Yahhh segitu doang, ga seru ah,” komentar akun @drg.mizra.
Fenomena ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Di era media sosial, pernyataan atau aksi yang awalnya diniatkan untuk bercanda bisa dengan cepat viral dan memicu kontroversi. Terlebih jika dilakukan oleh figur publik atau pejabat yang seharusnya menjaga wibawa serta citra institusi yang diwakilinya.
Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Jabatan Presiden akan Jadi 8 Tahun? Ketua MPR Ahmad Muzani Pastikan Hal ini
Dalam kasus Lopo Aris, kalimat bernada pamer justru menimbulkan kesan arogan. Padahal, sebagai perangkat desa, perannya adalah melayani warga. Hal ini menjadi pengingat penting bahwa setiap ucapan maupun tindakan pejabat publik kini diawasi langsung oleh masyarakat melalui layar ponsel.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!