"Yang tidak punya kaitan ya, biasa saja. Mungkin ada juga yang kena, tapi ingat kembali kenapa 10 ribu orang datang? Karena mereka ingin menitipkan suara. Mereka mungkin tidak punya akses untuk berteriak atau menulis, jadi mereka datang, duduk, tertawa, lalu pulang," ujarnya.
Mi'ing juga menolak anggapan bahwa komedi seperti Mens Rea akan memecah belah bangsa. Menurutnya, tidak ada kerusuhan atau konflik yang muncul bahkan penonton merasa terhibur setelah pertunjukan selesai.
"Setelah nonton itu apakah ada perpecahan? Nggak tuh. Sudah berbulan-bulan, Indonesia tetap seperti biasa karena menurut saya selama ini tidak ada perpecahan karena orang nonton komedi," pungkasnya.
Penjelasan Mi'ing tersebut mendapat respons positif publik, menambah daftar tokoh publik yang melihat Mens Rea sebagai ekspresi kritik sosial yang perlu direnungkan dan ditelaah lebih lanjut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Komedi, seperti yang dikatakan Mi'ing menjadi ruang katarsis agar masyarakat tetap waras di tengah tekanan hidup yang kian berat dan situasi politik yang penuh ketegangan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Sebut Gibran "Wapres Ngantuk" dalam Stand-Up, Pandji Pragiwaksono Disemprot Dokter Tompi: Bukan Kritik Cerdas
Hilang Lalu Muncul Kembali, Podcast Ahok dan Denny Sumargo Bahas Pilkada, Mahkamah Konstitusi, hingga Stand Up Pandji
Laporan Pandji Dinilai Ancam Ekosistem Budaya, DPR Dorong Perlindungan Pekerja Seni dari Tekanan Hukum
Apa Arti Sebenarnya dari 'Mens Rea' yang Populer akibat Tayangan Pandji di Netflix?
Anak Pandji Pragiwaksono Jadi Sasaran Bullying Imbas Jokes Mens Rea yang Singgung Fisik Gibran, Sang Istri Ambil Langkah Tegas Siap Tempuh Jalur Hukum
Bela Pandji Pragiwaksono, Inayah Wahid Bawa Pesan Gus Dur di Tengah Polemik Komika yang Dipolisikan Imbas Singgung Ormas Keagamaan Kelola Tambang