Ayah 4 anak ini juga tidak menampik adanya praktik "politik balas budi" sebagaimana yang disampaikan dalam materi stand up comedy Pandji. Ia bahkan memberikan ilustrasi sederhana untuk menjelaskan logika tersebut.
Felix menganalogikan pemberian kecil bisa menimbulkan rasa sungkan, apalagi jika yang diberikan adalah sesuatu yang bernilai besar seperti izin tambang.
"Sederhananya gini, orang ke supermarket biasa bayar parkir Rp2.000. Tapi kalau tiba-tiba bayarnya Rp50.000, langsung dipanggil bos, didoain, disuruh hati-hati, macam-macam doanya," kata Felix.
"Bayangin itu aja yang dikasih sedikit sudah makasih banget, apalagi kalau dikasih tambang yang nilainya gede banget," tuturnya.
Ia menekankan bahwa setiap pemberian pasti memiliki konsekuensi. Felix sendiri juga memahami rasa penasaran publik yang selama ini mempertanyakan mengapa justru organisasi keagamaan yang diberikan kewenangan mengelola tambang.
Menurutnya, mempertanyakan kebijakan tersebut adalah hal yang wajar dalam ruang publik di negara demokrasi seperti Indonesia.
"Artinya dalam setiap pemberian itu pasti ada konsekuensinya. Dan pertanyaannya, kenapa? Kenapa harus organisasi agama yang boleh kelola tambang? Ada apa di balik itu? Boleh dong kalau bertanya? Masa kita nanya enggak boleh?" ucapnya.
Felix mengaku dirinya menyaksikan langsung pertunjukan "Mens Rea" secara penuh saat Pandji tampil di Bogor, bukan melalui Netflix.
Baca Juga: Inilah Jatah Tambang Muhammadiyah dan NU, Ada 6 Wilayah yang Disiapkan untuk Ormas Keagamaan
Sebagai seorang pendakwah, Felix justru merasa tersinggung dalam arti positif, karena menurutnya Pandji telah menjalankan peran yang seharusnya dilakukan para pendakwah.
"Aku datang, dan sebagai seorang pendakwah aku merasa tersinggung. Kenapa? Karena Pandji ngambil tugas para pendakwah, yaitu menyadarkan orang mana yang benar dan mana yang salah," tuturnya.
"Ini bukan olok-olokan agama, tapi kritik terhadap orang-orang yang mengatasnamakan agama atau memanfaatkan otoritas agama untuk kepentingan pribadi," pungkas Felix.
Unggahan ustadz Felix ini menuai beragam komentar dari warganet. Tak sedikit yang salfok karena perkataan sang pendakwah yang bercanda mewakili Aliansi Sipit Umat atau disingkat ASU, lantaran istilah tersebut memiliki makna kasar dalam bahasa Jawa.
Artikel Terkait
Ferry Irwandi Sebut Tayangan Mens Rea Sangat Layak Ditonton, Ternyata Ini Alasannya...
Sindiran Pandji ke Gibran di Netflix Jadi Perbincangan, Mahfud MD Pastikan Tak Masuk Jerat KUHP
Hilang Lalu Muncul Kembali, Podcast Ahok dan Denny Sumargo Bahas Pilkada, Mahkamah Konstitusi, hingga Stand Up Pandji
Kritik Itu Biasa! Respon Tak Terduga Gibran Usai Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polisi Gegara Stand Up Comedy 'Mens Rea', Unggahan Wapres Disorot
Panik! Pandji Pragiwaksono Minta Maaf Gegara Keliru Kaitkan Zarof Ricar dengan Kejaksaan Agung di Panggung 'Mens Rea', Begini Klarifikasinya