"Tapi terkadang wajar, jika kita merasa lelah. Perjuangan tanpa istirahat itu bisa terasa berat. Ini seperti cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Anies.
"Sudah berusaha mencintai (negara), tapi rasanya tidak ada balasan (dari pemerintah). Maka, tidak apa-apa. Ambil berhenti sejenak. tapi, Bukan berarti menyerah ya, dengan memberi nafas untuk diri sendiri, kita bisa kembali dengan energi yang lebih baik," tuturnya.
Anies juga ikut menyoroti kehidupan pada tahun 1908 dan 1928 saat masyarakat berjuang meraih mimpi untuk mewujudkan negara yang merdeka.
Dengan semangat itu, Anies mencontohkan bagaimana perjuangan masyarakat pada zaman dahulu yang butuh kesabaran dan ketabahan yang akhirnya berujung manis setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945.
Selain itu, Anies menyebut bahwa nasionalisme tidak ada hubungan atau ditentukan oleh lokasi tempat tinggal seseorang.
Banyak tokoh bangsa yang pernah tinggal lama di luar negeri namun tetap bisa berkontribusi signifikan bagi Indonesia dari manapun mereka berada.
"Saya ingin sampaikan bahwa Cinta Indonesia itu tidak ada hubungannya dengan lokasi tempat tinggal.
Banyak tokoh-tokoh bangas kita yang dulu lama tinggal di luar negeri tapi tetap berkontribusi untuk Indonesia," sambung Anies.
"Jadi, nasionalisme itu bukan soal di mana kita tinggal, tapi bagaimana kita memberi manfaat bagi negeri ini, sekecil apapun berkontribusi untuk negara," tandasnya.
Oleh karena itu, Anies Baswedan memberikan pesan bagi mereka yang memiliki kesempatan untuk tinggal atau bekerja di luar negeri dan mendorong agar tetap berkontribusi untuk Indonesia dari manapun berada.
"Jadi, bagi yang sedang ingin ke luar negeri untuk alasan kebutuhan diri, untuk alasan keluarga, itu sah sah saja. Hanya saja kita tahu bahwa tidak semua orang punya kesempatan untuk bisa ke luar negeri," katanya.