Gerakan-gerakan lincah dan suara gong serta tabuhan dramatis dalam pertunjukan barongsai diyakini dapat mengusir roh-roh jahat dan membawa keberuntungan menyambut tahun yang baru.
Dalam tradisi Imlek, barongsai biasanya tampil di tempat-tempat umum. Saat pertunjukan berlangsung, beberapa orang memberikan angpao atau amplop merah berisi uang sebagai penghargaan yang dipercaya membawa keberuntungan.
Selain sebagai simbol keberuntungan, barongsai juga melambangkan harapan akan kehidupan yang lebih makmur, damai, dan sejahtera menyambut tahun yang baru.
Tarian ini menghadirkan suasana perayaan yang meriah dan penuh kegembiraan, membuatnya menjadi salah satu daya tarik utama dalam festival Imlek di berbagai belahan dunia.
Baca Juga: Cari Hadiah Imlek? Hindari 8 Barang Berikut, Dipercaya Bisa Membawa Sial hingga Memanggil Hantu!
Barongsai mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-15 hingga ke-17 bersamaan dengan kedatangan para pedagang Tionghoa.
Dalam komunitas Tionghoa-Indonesia, barongsai tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga memiliki nilai spiritual yang mendalam.
Tarian barongsai bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki unsur bela diri, akrobatik, serta ritual yang dilakukan sebelum pertunjukan. Para pemain barongsai menjalani persiapan khusus untuk memastikan pertunjukan berjalan lancar serta mendapatkan berkah dan perlindungan.
Menurut Amilda Sani, Dosen Antropologi Budaya UIN Raden Fatah Palembang, Barongsai dianggap sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia gaib. Sebagai tarian ritual sakral, barongsai tidak hanya ditampilkan pada perayaan Imlek, tetapi juga dalam berbagai upacara keagamaan dan acara penting lainnya.
Pada masa kolonial Belanda, budaya Tionghoa, termasuk barongsai, sempat terpinggirkan di Indonesia. Larangan terhadap kebudayaan Tionghoa semakin diperketat pada era Orde Baru.
Namun, setelah reformasi politik dan pencabutan larangan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000, barongsai kembali mendapat tempat di masyarakat Indonesia.
Hingga kini, pertunjukan barongsai dapat dinikmati dalam berbagai acara, baik dalam lingkup komunitas Tionghoa maupun di acara nasional meski bukan dalam momen perayaan Imlek.***