Gus Ulil tercatat pernah ‘nyantri’ di Pesantren milik ayahnya serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang.
Setelah lulus dari Madrasah Mathali’ul Falah, Gus Ulil melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara hingga mengikuti program doktoral di Universitas Boston, Amerika Serikat.
Menurut Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, meski Ulil Abshar berasal dari kalangan ‘santri’, namun ia berbeda dengan orang-oran pesantren lainnya.
“Tetapi dua hal yang membedakan Ulil dari orang-orang pesantren lainnya, yaitu iaa bukan lulusan pesantren, dan profesinya bukanlah profesi di lingkungan pesantren,” tulis Gus Dur dalam tulisannya berjudul ‘Ulil dengan Liberalismenya’ yang diunggah pada situs luk.staff.ugm.ac.id.
Gus Dur juga menilai, Gus Ulil adalah seorang santri yang berpendapatt, bahwa kemerdekaan berpikir adalah sebuah keniscayaan dalam Islam.
Sebagai akademisi, Gus Ulil cukup aktif di berbagai lembaga kajian keilmuan.
Baca Juga: Inilah Jatah Tambang Muhammadiyah dan NU, Ada 6 Wilayah yang Disiapkan untuk Ormas Keagamaan
Ia pernah menjadi peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) hingga menjabat sebagai Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).
Di NU sendiri, Gus Ulil telah lama aktif di Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakspedam).
Gus Ulil juga pernah terjun ke dunia politik dan menjabat sebagai Ketua Divisi Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Partai Demokrat yang saat itu dipimpin Anas Urbaningrum.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!