Abdul Fikri menjelaskan bahwa perkataan Gus Miftah sebagai ulama dan pemilik pondok pesantren Ora Aji juga memberikan contoh tidak baik kepada anak didiknya.
Terlebih, pada video viral terlihat jelas Gus Miftah telah melakukan perundungan verbal pada penjual es teh dengan melontarkan kata-kata merendahkan rakyat kecil.
"Bagaimana kita bisa memberikan contoh kepada anak-anak didik misalnya, 'jangan melakukan perundungan'. Sedangkan, dari kejadian kemarin ini, apakah melecehkan masyarakat dengan taraf ekonomi tertentu bukan perundungan?" ujar Abdul Fikri.
"Meskipun secara verbal, tetapi (perkataan Gus Miftah) ini juga masuk perundungan," tandasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pejabat publik sejatinya harus paham mengenai kode etik sebagai pejabat negara dan mengedepankan adab terutama saat berinteraksi dengan masyarakat.
Pejabat publik harus menyadari bahwa dirinya selama ini bekerja untuk rakyat dan memahami cara berkomunikasi dengan pemilihan kata yang baik untuk lebih menghargai perasaan masyarakat.
Gus Miftah sendiri juga sudah meminta maaf kepada penjual es teh dengan mendatangi rumah Bapak Sunhaji yang berada di Grabag, Magelang, Jawa Tengah.
Namun, sikapnya meminta maaf pun menuai pro kontra dan lagi-lagi menjadi perbincangan publik karena dianggap bukan karena merasa bersalah atas kesadaran dari dirinya sendiri.
Ulama keturunan kyai dari Ponorogo, Jawa Timur itu disebut meminta maaf kepada Bapak Sunhaji setelah ditegur Setkap Mayor Teddy atas perintah Presiden Prabowo Subianto hingga diduga tak ingin "kehilangan jabatan sebagai Utusan Khusus Presiden".
Terlepas dari itu, Abdul Fikri berharap kejadian ini tak terulang kembali dan bukan hanya untuk Gus Miftah saja tetapi juga bagi pejabat negara yang lainnya.
"Untuk selanjutnya, meskipun yang bersangkutan sudah menyampaikan permohonan maaf, tetapi benar-benar kejadian ini tidak diulangi kembali," tutur Abdul Fikri.
"Bukan hanya untuk yang bersangkutan (Gus Miftah) saja, tetapi untuk pejabat lainnya juga karena bisa saja yang lain tidak hanya di eksekutif," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!