"Pohon kelapa berbeda dengan jenis pohon besar lain yang berkayu sehingga membuatnya bisa tahan dari terpaan badai," kata Hope Jahren dalam otobiografinya berjudul "Lab Gril", dikutip SketsaNusantara.id dari laman Live Science pada hari Jumat, 22 November 2024.
"Sebagai gantinya, serentetan jaringan spons yang tersebar dalam jaringan pohon memberi poho kelapa fleksibilitas dan membuatnya dapat menyesuaikan dengan kondisi meski diterpa angin yang pelan hingga menyatu dengan badai yang mengerikan," imbuhnya.
Palem atau Pohon Kelapa tidak memiliki cincin kayu yang mempertebal batang setiap tahun, melainkan sel-sel elastis yang memungkinkan batangnya melentur saat diterpa angin kencang.
Hal ini membuat pohon kelapa lebih tahan terhadap angin badai dibandingkan pohon kayu konvensional.
Profesor Judy Jernstedt dari Universitas California juga menjelaskan bahwa pohon palem, termasuk kelapa, memiliki akar serabut yang menyebar luas di permukaan tanah.
Akar ini memberikan stabilitas yang cukup kuat selama tanah tidak terlalu basah.
Namun, jika tanah terlalu jenuh akibat pengaruh air, kekuatan cengkeraman akar akan melemah, sehingga pohon menjadi lebih rentan tumbang.
Meski pohon kelapa dikenal kuat, namun bukan hal yang mustahil pohon jenis tersebut juga bisa saja tumbang dalam beberapa kondisi tertentu yang memungkinkan.
Beberapa penyebab seperti kondisi tanah yang terlalu basah hingga umur pohin terlalu tua bisa menyebabkan pohon kelapa cenderung lebih rapuh dan akar serta batangnya bisa kehilangan fleksibilitas, hingga mudah tumbang.
Menurut ahli tumbuhan, tumbangnya pohon kelapa biasanya bukan karena struktur batangnya melainkan kondisi lingkungan sekitar.
Penanaman kelapa di tanah yang tidak optimal atau bukan habitat aslinya juga dapat mengurangi kekuatannya.
Kejadian ini menunjukkan bahwa meskipun pohon kelapa terkenal tangguh, tetap ada faktor lingkungan yang dapat membuatnya tumbang.