SketsaNusantara.id - Anies Baswedan tengah ramai jadi sorotan usai memasang tagar "open to work" di LinkedIn.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu gagal terpilih jadi Presiden pada Pilpres 2024 dan juga tak memiliki kesempatan untuk maju mengikuti kontestasi Pilkada Jakarta karena tak ada partai yang mendukung.
Anies Baswedan yang akrab dipanggil Abah oleh khalayak luas, kini memiliki banyak waktu luang.
Dalam beberapa podcast, Anies menyebut dirinya sebagai "pengangguran yang bahagia" seperti tak ada beban. Meski ada pekerjaan pun Anies mengaku tak terikat dan bisa bebas mengatur waktunya sendiri lebih leluasa.
Belakangan ini, netizen menyoroti LinkedIn Anies dengan tagar "open to work" yang berarti "siap untuk bekerja", lantaran statusnya sebagai pengangguran.
Namun, ternyata cara Anies memasang fitur Open to Work di LinkedIn pernah menjadi perdebatan dalam beberapa tahun terakhir di kalangan pencari kerja dan pakar rekrutmen.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Cultivate Your Career, beberapa pakar dari perusahaan besar seperti Google dan Amazon mengklaim bahwa menampilkan status "Open to Work" bisa dilihat sebagai tanda keputusasaan, yang dapat memengaruhi persepsi perekrut terhadap pelamar.
Bahkan pakar rekrutmen dari Google dan Amazon menyebut dampak memasang Open to Work di LinkedIn karena dinilai akan mempersulit seseorang mencari pekerjaan.
Namun, apakah pandangan ini benar? Lantas bagaimana faktanya terkait fitur Open to Work di LinkedIn ini?
Nyatanya, beberapa influencer yang kerap membahas soal dunia kerja menyebut fitur "Open to Work" malah makin banyak membantu para pengangguran lebih cepat mencari pekerjaan.
Fitur "open to work" memberi tahu perekrut bahwa mereka aktif mencari peluang baru, serta memungkinkan para profesional untuk melakukan pencarian yang semakin kompetitif.