news

Bjorka Diduga Bocorkan 6 Juta Data NPWP Termasuk Milik Presiden Jokowi dan Keluarga, Ini Penyebab dan Payung Hukumnya di Indonesia

Jumat, 20 September 2024 | 15:30 WIB
Ilustrasi hacker yang menyebabkan kebocoran data di Indonesia (Pixabay.com/ Geralt)

SketsaNusantara.id – Dunia siber Indonesia kembali diguncang dengan dugaan kebocoran data yang melibatkan peretas terkenal Bjorka.

Kali ini, sebanyak 6 juta data Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) milik masyarakat Indonesia dikabarkan bocor dan dijual secara online dengan harga sekitar Rp150 juta.

Yang lebih menghebohkan, data yang bocor itu juga diduga termasuk milik Presiden Joko Widodo serta kedua anaknya, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep.

Baca Juga: Susi Pudjiastuti Lantang Beri Sindiran Menohok Soal Huru-Hara Ekspor Pasir Luat: Kau Keruk Hasilnya, Kau Akan Tenggelam

Informasi mengenai kebocoran data ini pertama kali disampaikan oleh Teguh Aprianto, seorang Konsultan Keamanan Siber sekaligus pendiri Ethical Hacker Indonesia, melalui akun X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter) @secgron.

Dalam unggahannya, Teguh menjelaskan bahwa data yang bocor mencakup informasi sensitif seperti NIK, NPWP, alamat, nomor telepon, dan email. Selain Jokowi dan keluarganya, data milik pejabat penting lainnya, seperti Menteri Kominfo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, juga ikut bocor.

“Sebanyak 6 juta NPWP diperjualbelikan dengan harga sekitar Rp150 juta. Data yang bocor termasuk milik Presiden Jokowi, Gibran, Kaesang, dan beberapa menteri lainnya,” tulis Teguh dilansir SketsaNusantara.id pada X @secgron pada Rabu, 18 September 2024.

Baca Juga: Update Kasus Pembunuhan Balita di Cilegon, Orang Tua Korban Terima Ancaman via WA hingga Dugaan Penculikan

Kebocoran Data: Ancaman Serius di Era Digital

Kebocoran data pribadi bukan lagi fenomena baru di Indonesia, namun dampaknya semakin mengkhawatirkan.

Kebocoran data seperti ini bisa memicu berbagai kejahatan siber, termasuk pencurian identitas dan penipuan. Jika data jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab, risiko penyalahgunaan data pribadi menjadi sangat tinggi.

Kebocoran data umumnya terjadi karena beberapa faktor utama, yaitu human error, serangan malware, dan teknik social engineering.

Baca Juga: Raih Skor Tertinggi dalam Penerapan ESG Jadi Bukti Komitmen BRI dalam Mewujudkan Keuangan Berkelanjutan

Human error terjadi ketika seseorang secara tidak sengaja memasukkan data pribadinya ke aplikasi ilegal atau bajakan.

Halaman:

Tags

Terkini