Diketahui 2 buah kursi dipesan oleh Paroki Gereja Katedral Jakarta yakni satu kursi rotan dan satu kursi sofa.
Hal yang menjadikan kursi Paus Fransiskus ini spesial adalah semua pihak atau tim pembuat kursi dari SMK PIKA Semarang memiliki latar belakang suku dan agama yang berbeda-beda yang menjadi simbol kebhinekaan.
Kursi Paus Fransiskus yang dipakai di Gereja Katedral dikerjakan oleh 8 pelajar dari kelas 11 dan 12 SMK.
Lima dari delapan pelajar yang ikut terlibat dalam pembuatan kursi Paus Fransiskus menganut 5 agama yang berbeda-beda.
Ada Achmad Rayyan Athallah yang beragama Islam, Andrew Yulius Purnomo yang beragama Kristen, Angela Gregoria dan Antonio Roberto Zonggonau yang beragama Katolik, serta Angelica Darmawan yang beragama Buddha.
Tak hanya itu, Kepala SMK PIKA Semarang juga menyebut bahwa tim pembuat kursi Paus Fransiskus juga berasal dari beragam suku di berbagai daerah di Indonesia, yakni dari Jawa, Kupang, Mentawai hingga Papua.
Kursi yang digunakan Paus Fransiskus ini menjadi simbol keberagaman sebagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Kursi tersebut tak hanya melambangkan kerukunan antar umat ini, tetapi juga menggambarkan persatuan melalui kerja sama tim dari berbagai suku dan agama dalam membuat suatu persembahan karya yang luar biasa.
2. Bahan Kursi Paus Fransiskus dari Kayu Jati Pilihan
Bahan yang dipakai untuk membuat kursi Paus Fransiskus pun tak sembarangan.
Seluruh tim mulai dari guru, karyawan dan siswa-siswi SMK PIKA Semarang memilih bahan kayu jati yang tumbuh di daerah tandus dengan kualitas terbaik.
Bukan tanpa alasan, bahan tersebut dipilih karena kayu jati yang tumbuh di daerah tandus merupakan bahan alami anti rayap.