SketsaNusantara.id - RS Medistra akhirnya buka suara usai beredar isu larangan berhijab saat rekrutmen dokter dan tenaga kesehatan (Nakes).
Isu tersebut mencuat usai beredar surat protes yang dilayangkan dr. Diani Kartini terkait adanya syarat kesediaan melepas hijab bila diterima bekerja di RS Medistra.
Dokter spesialis bedah Onkologi itu menyayangkan keputusan Rumah Sakit (RS) Medistra yang dianggap rasis dan diskriminasi dengan menyebut adanya standar ganda sehingga nakes muslim tidak mendapatkan kesempatan yang sama karena memakai hijab.
"Para Direksi yang terhormat, beberapa waktu lalu kerabat saya mendaftar sebagai dokter umum dan kebetulan memakai hijab," tulis dr. Diani Kartini sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari akun Twitter @Lonelynx_.
"Sangat disayangkan pada sesi wawancara di zaman sekarang ini masih ada persyaratan RASIS yang menanyakan soal ketersediaan melepas hijab terkait dengan performance RS Medistra yang merupakan rumah sakit Internasional," imbuhnya.
"RS di Jakarta Selatan lainnya yang memperbolehkan semua nakes muslim untuk menggunakan hijab. Apakah ada standar ganda cara berpakaian untuk dokter dan perawat serta pegawai lainnya di RS Medistra? Terima kasih atas perhatiannya," pungkas Diani Kartini.
Dugaan pelarangan memakai hijab ini pun menuai reaksi dari netizen usai surat protes dr. Diani Kartini beredar luas di media sosial.
Bahkan MUI dan DPRD DKI Jakarta mengecam keras pelarangan memakai hijab yang dianggap melanggar UUD 1945 mengenai kebebasan beragama.
Terkait hal ini, Dr. Agung Budisatria selaku Direktur RS Medistra merespon terkait pelarangan penggunaan hijab yang dianggap rasis.
Melalui laman resminya, Direktur RS Medistra mengeluarkan pernyataan resmi dan menyampaikan permintaan maaf atas isu yang beredar di masyarakat.
Pihak RS Medista merupakan rumah sakit yang terbuka bagi siapapun yang ingin bekerjasama menghadirkan layanan kesehatan terbaik untuk masyarakat.