SketsaNusantara.id - Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahui Budaya Universitas Indonesia, Prof. Melani Budianta mengomentari aksi demo mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini.
Dalam sebuah kesempatan, Prof. Melani Budianta menceritakan pertemuannya dengan seorang pengemudi mobil online yang mengantarnya kembali pasca mendatangi acara wisuda cucunya di Univeristas Indonesia pada Minggu, 25 Agustus 2024 kemarin.
Saat mobil yang mengantarkan Prof. Melani Budianta ini melewati sebuah jalan yang dulunya bernama Yun Hap, yaitu seorang mahasiswa UI yang terbunuh di gelombang reformasi pada tahun 1998 silam, pengemudi mobil online tersebut menceritakan apa yang ia alami di Bulan Mei 1998.
Pada waktu itu, pengemudi tersebut merupakan seorang mahasiswa semester dua di sebuah universitas lain di pinggiran Kota Jakarta.
Ia bersama teman-temannya bergabung dengan mahasiswa dari kampus lain turun ke jalan menuju DPR.
"Dia ingat bagaimana ia bersembunyi di gorong-gorong ketika tembakan dimuntahkan dan bagaimana ia dipukul, ditendang dan digiling di jalan raya oleh aparat," katanya, dilansir SketsaNusantara.id dari Instagram @bertotukan.
Pengemudi mobil online tersebut tak bisa menghindar hingga akhirnya dirinya mendapat luka di bagian dahinya.
"Lukanya dijahit di dahinya di sebuah tenda tim kesehatan yang didirikan di kampus itu,"
26 tahun pasca tragedi 98 terjadi, sang pengemudi tersebut kembali teringat akan aksi 98, terlebih baru-baru ini aksi besar Kawal Putusan MK baru saja terjadi. Dengan getir ia bicara tentang ironi reformasi kembali lagi.
Baca Juga: DPR Setujui PKPU Pilkada Sesuai Putusan MK, Mahfud MD: Secara Politik Raja Jawa Itu Tidak Ada Lagi
"Kemarahan rakyat tidak bisa dibendung atas kuasa yang semakin semena-mena di panggung politik elit meninggalkan cita-cita reformasi,"
Guru besar Universitas Indonesia itu juga menitipkan pesan kepada para mahasiswa saat ini.