SketsaNusantara.id - Nasib difabel tak pernah lekang dari stigma miring dan diskriminasi. Bahkan dari keluarganya sendiri. Hal ini terjadi karena masih ada anggapan bahwa memiliki anak “cacat” adalah sebuah aib.
Gambaran ini jelas terpampang dalam tragedi kebakaran yang menelan korban jiwa seorang perempuan penyandang disabilitas, Adinda Sari, hingga menjadi arang di Dusun Gumuk Limo Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji Jember, Kamis dini hari 18 Juli 2024.
Kusbandono, aktivis difabel Jember menyayangkan bahwa peristiwa naas tersebut seharusnya tidak terjadi jika pihak keluarga mampu merawat dan menjaga seperti anak-anak “normal” lainnya yang ada dalam keluarga.
"Perlakuan dengan dienengno (disembunyikan,red) adalah sebuah perlakuan kejam dan fatal dari pihak keluarga yang berakibat hilangnya nyawa korban," jelasnya saat dikonfirmasi SketsaNusantara.id pada 20 Juli 2024.
Menurutnya, konsekuensi dari kejadian tersebut tidak serta merta menghilangkan langkah hukum berhenti hanya mengunjungi rumah duka oleh aparat hukum lalu selesai begitu saja.
Kusbandono menegaskan bahwa aparat kepolisian terutama Polres Jember harus bisa dan mau mengusut tuntas dengan melakukan penyelidikan secara komprehensif.
"Sampai saat ini petugas kepolisian maupun petugas terkait belum memastikan terkait penyebab kematiannya. Dikarenakan korban tersebut yang meninggal telah dikebumikan sebelum petugas yang berkait mengetahui kejadian tersebut," jelas Kanit Reskrim Polsek Rambipuji Bripka Bambang Febri.
Menurut Bripka Bambang, tadi sempat dilakukan olah TKP bersama tim Inafis Reskrim Polres Jember, namun hasilnya masih harus menunggu.
"Dugaan sementara masih kita dalami, terkait motif maupun siapa pelakunya," jelas Bripka Bambang.***