“Kalau dulu kan kita bicara perdagangan manusia dalam wujud manusia nyata, ya. Tapi sekarang saya melihat potensi itu secara digital. Betapa tidak? Contoh akun saya, sudah melanglang buana menembus berbagai negara. Awal peretasan di India, lanjut jalan-jalan di Thailand, kemudian dari channel youtube, akun saya dikuasi link donasi yang beralamat di Belanda, dan sekarang keterangan channel youtube di Uni Emirat Arab. Jadi si akun ini jalan-jalan tapi tidak ajak-ajak,,” kata politisi tersebut.
Ia pun mengakui saat ini sedang mempelajari marketplace penjualan akun gmail sejak akunnya mengalami peretasan.
Ia mengkhawatirkan potensi penjualan akun pribadi akibat peretasan. Menurutnya, akun pribadi Google mirip dengan wujud manusia yang di dalamnya terdapat banyak informasi penting dari foto hingga keuangan.
Lia berpendapat bahwa masalah peretasan dan potensi human trafficking itu adalah PR besar bagi semua pihak.
Berbagai layanan publik yang meminta data email dan penggunaan password pun jadi sorotan keponakan Khofifah Indar Parawansa itu.
Sekilas hal tersebut memang bukan masalah, tetapi dampaknya terasa ketika mengalami peretasan karena akses lainnya jadi ikut menghilang.
“Terbuka saja ya sekarang. Ada lho, hotel maupun layanan publik yang mana menuntut kita harus login dengan alamat email dan passwordnya. Sekilas ini bukan masalah ya. Tapi ternyata begitu mengalami peretasan seperti saya, akses lainnya ikut hilang, trutama itu tadi, google foto dan drive yang sudah tidak bisa dibuka lagi di perangkat HP atau laptop.”
Lia mengaku tidak mengalami pemerasan meskipun tanggal kejadian yang dia alami sama persis dengan diretasnya data Kominfo RI.
“Kalau pemerasan atau permintaan tebusan sih tidak ada. Jadi beda dengan negara yang infonya diminta tebusan Rp. 131 miliar. Hanya saya ingin saja kembali meneruskan pekerjaan yang sudah satu akses dengan google drive dan memastikan foto anak-anak tersimpan rapi di google foto agar mereka saat dewasa kelak mereka bisa melihatnya. Tapi saya rasional saja, karena pelakunya terlalu imajiner untuk diketahui,” lanjutnya.
Harapannya adalah agar ada penanganan yang tegas pada cyber crime dengan follow up dari RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP).
“Saya berharap ada follow up RUU Pelindungan Data Pribadi (PDP) sebagai bentuk jaminan Keamanan Siber warga negara Indonesia. Karena begitu diretas, pengguna gagal mengakses semuanya. Contoh saya, jika ingin login, maka muncul autentifikasi atau verifikasi dua langkah via NFC dan USB yang itu menunjukkan si hacker yang punya kewenangan.”
Ia pun menegaskan harus ada kerja sama antara pemerintah dan Google untuk menangani, yang meskipun sudah pernah ia datangi tetapi tidak membuahkan hasil.
“Dari pengalaman saya, contoh channel youtube yang menyertakan link https://www.donationalerts.com/r/lifeanimal . Setelah saya cek, link tersebut beralamat di Belanda, yaitu Prof. J.H. Bavincklaan 7, Amstelveen, 1183 AT, the Netherlands. Maka setidaknya kan muncul titik terang bahwa ada kaitan link itu dengan hacker. Tapi memang ini butuh Kerjasama dari pihak Google yang mana saya sendiri pernah ke kantor resminya, hasilnya nihil juga,” pungkasnya.***