news

Warganet Ramai Soroti Unggahan Video Wapres soal AI, Gestur Gibran Elus Kucing Jadi Sorotan hingga Disebut Feline Diplomacy, Ternyata Ini Maksudnya

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:30 WIB
Wapres Gibran Rakabuming Raka ramai disorot usai unggah video bahas soal AI dengan gestur elus-elus kucing yang jadi perbincangan hangat di media sosial (Instagram/gibran_rakabuming)

Hewan peliharaan sering kali digunakan dalam dunia politik modern, untuk memperlihatkan sisi personal seorang pemimpin sehingga terlihat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Strategi semacam ini diyakini mampu menciptakan kedekatan emosional, mengurangi kesan formal otoritas yang terbilang kaku, serta membangun citra yang lebih ramah di mata publik.

Salah seorang warganet bahkan mengaitkan gestur Gibran dengan konsep tersebut untuk membangun kedekatan dengan publik dan diduga punya tujuan khusus untuk mengalihkan isu atau kebijakan kontroversial, mengingat belakangan ini kerap muncul gelombang demo mahasiswa akibat kebijakan pemerintah seperti kenaikan harga BBM yang menuai protes masyarakat.

"Kenapa elus-elus kucing? Karena penasihat politiknya paham tentang Feline Diplomacy atau Pet-Keting. Penggunaan hewan peliharaan, khususnya kucing, oleh tokoh politik untuk melembutkan citra publik, membangun kedekatan emosional, dan mengalihkan perhatian dari isu-isu kebijakan yang kontroversial," tulis akun Instagram @henry_octavia.

Baca Juga: Panik? Joko Widodo Kehabisan Kata-Kata saat Ditanya soal 'Adili Jokowi', Gerak-Gerik Mantan Presiden saat Wawancara dengan Najwa Shihab Curi Perhatian

Di tengah ramainya sorotan publik, muncul pula istilah Cultural Populism atau Populisme Budaya yang ramai diperbincangkan oleh warganet.

Apa Itu Cultural Populism?

Secara sederhana, Cultural Populism merupakan strategi komunikasi yang memanfaatkan simbol, kebiasaan, atau budaya populer yang dekat dengan kehidupan masyarakat untuk menciptakan kesan bahwa seorang pemimpin merupakan bagian dari rakyat biasa.

Dalam konteks video tersebut, sebagian warganet menilai kehadiran kucing dapat dipahami sebagai simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, mengingat banyak orang memiliki atau menyukai hewan peliharaan tersebut.

"Gestur tersebut juga seolah ingin menunjukkan Cultural Populism sebagai strategi politik yang memanfaatkan elemen budaya populer atau kebiasaan sehari-hari mayoritas masyarakat," tulis akun @hery345.

"Kucing adalah kode dan elusannya menjinakkan, atau dalam hal ini gestur Wapres menunjukkan kecintaan pada kucing, untuk menunjukkan bahwa sang politisi adalah bagian dari rakyat biasa dan memahami hati mereka," tulis akun @gaa_djiu15.

Baca Juga: Banjir Kritik, Ustadz Putra Pradipta Sentil Prabowo yang Dianggap Tidak Etis Gunakan dana APBN untuk Berkurban, Salsa Erwina Singgung Ketidakadilan

Selain diplomasi kucing, sejumlah pengguna media sosial juga menyinggung istilah lain yang dikenal dalam komunikasi politik, yakni Dead Cat Strategy atau strategi kucing mati.

Istilah ini merujuk pada teknik komunikasi yang dilakukan dengan menghadirkan isu atau peristiwa yang sangat menarik perhatian publik.

Sederhananya, strategi tersebut digunakan untuk pengalihan isu sehingga fokus publik bergeser dari segala macam isu yang tengah ramai jadi sorotan saat ini.

Halaman:

Tags

Terkini