SketsaNusantara.id - Fenomena tidak biasa terjadi di wilayah Ternate pada Jumat pagi, 22 Mei 2026. Sejumlah warga mengaku mendapati waktu di perangkat elektronik mereka tiba-tiba mundur sekitar satu jam dari waktu normal di zona Waktu Indonesia Timur (WIT).
Peristiwa tersebut langsung membuat masyarakat heboh dan ramai dibahas di media sosial. Banyak warga mengaku awalnya kebingungan karena jam pada ponsel, tablet hingga laptop menunjukkan waktu yang lebih lambat dibanding biasanya.
Fenomena ini kemudian viral setelah akun X bernama iPopBase ikut membagikan informasi mengenai kejadian tersebut pada Jumat, 22 Mei 2026.
“Beberapa warga di Ternate, Maluku Utara, dilaporkan melihat Waktu Indonesia Timur (WIT) berjalan sekitar satu jam lebih lambat dari biasanya pagi ini,” tulis akun tersebut.
Unggahan itu langsung memicu berbagai spekulasi dari netizen. Sebagian mengaitkannya dengan gangguan satelit, kesalahan sistem jaringan hingga teori fenomena alam tertentu.
Mayoritas warga menyebut perubahan waktu hanya terjadi pada perangkat digital yang terhubung dengan layanan internet atau GPS. Sementara itu, jam manual dan perangkat yang tidak tersambung jaringan dilaporkan tetap menunjukkan waktu normal.
Menanggapi ramainya pembahasan tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memberikan penjelasan resmi terkait fenomena waktu mundur di Ternate.
Petugas Operasional BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Bayu Merdeka, memastikan bahwa kejadian tersebut tidak berkaitan dengan fenomena alam, gempa bumi, perubahan rotasi bumi maupun aktivitas atmosfer lainnya.
“Terkait dengan fenomena alam ataupun gempa, petir, atau apa, sampai sekarang belum ada,” ujar Bayu Merdeka.
Menurut Bayu, kemungkinan besar masalah tersebut berasal dari gangguan sistem teknologi atau kegagalan perangkat menerima informasi waktu dari penyedia layanan jaringan.
“Itu kemungkinan besar ada kesalahan atau gagal menerima informasi dari penyedia layanan, baik dari contohnya Telkomsel, internet, ataupun GPS. Handphone yang kita pakai semuanya tergantung dari layanan jaringan as a service,” jelasnya.