SketsaNusantara.id - Anies Baswedan turut menanggapi kondisi ekonomi Indonesia di tengah sorotan publik terkait nilai tukar rupiah yang kian melemah hingga menyentuh angka Rp17.600 per dolar AS.
Belakangan ini, publik ramai menyoroti sikap pemerintah yang dinilai tidak serius menangani hal ini. Perkataan Presiden RI, Prabowo Subianto yang menyebut pelemahan rupiah tidak berpengaruh pada kehidupan masyarakat kecil pun memicu perdebatan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, banyak warga mulai mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran. Pelemahan rupiah terhadap dolar dinilai turut berdampak pada harga barang dan biaya hidup yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Selain itu, banyak media asing yang juga ikut mengkritik kepemimpinan Prabowo di tengah melemahnya rupiah. Majalah The Economist secara tajam mengkritik bahwa kebijakan ekonomi Presiden yang terlalu boros dan populis yang berpotensi membebani keuangan negara, memperlebar defisit anggaran, hingga menjadi salah satu pemicu utama anjloknya nilai tukar rupiah.
Sejalan dengan kritikan tersebut, Anies Baswedan ikut menyoroti melemahnya rupiah sebagai masalah yang membutuhkan penanganan serius.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut Indonesia saat ini sedang menghadapi situasi yang tidak baik-baik saja, terlebih di tengah ketegangan geopolitik global yang terus memanas.
"Saya mengikuti dengan seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini, dan terus terang kondisinya tidak baik-baik saja," ucap Anies dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah di akun Instagram @aniesbaswedan pada hari Rabu, 20 Mei 2026.
"Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus, dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak," sambungnya.
Tak hanya itu, mantan Rektor Universitas Paramadina itu juga mengingatkan adanya ancaman lain yang membayangi Indonesia, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga potensi cuaca ekstrem.
"Tantangan di depan juga masih panjang. Geopolitik yang memanas, konflik membayang di Timur Tengah. Para ilmuwan juga mengingatkan soal El Nino terkuat dalam sejarah pengamatan dan itu sudah ada depan mata. Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan. Maka beratnya berlipat," ujarnya.
Dalam unggahannya, Anies mendesak pemerintah agar lebih serius menangani berbagai persoalan yang muncul. Ia menilai pemerintah harus bisa memberikan kepastian di tengah situasi genting untuk menghadapi tantangan yang makin berat ke depannya.
"Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula, tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran, dari arah yang jelas, dari pemerintah yang tahu akan ke mana negeri ini dibawa," tuturnya.