SketsaNusantara.id – Nama Suratno tengah menjadi sorotan publik usai ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan kasus korupsi dana hibah melalui program pokok pikiran (pokir) DPRD di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Ketua DPRD Magetan tersebut terseret dalam perkara korupsi dengan modus menguasai seluruh tahapan hibah mulai dari perencanaan hingga pencairan. Selain Suratno, Kejaksaan juga menangkap 5 tersangka lain yang merupakan anggota DPRD Magetan.
Kasus ini bermula dari alokasi dana hibah POKIR DPRD periode 2020-2024 dengan total rekomendasi anggaran Rp335,8 miliar dan terealisasi mencapai Rp242,9 miliar yang disalurkan melalui 13 OPD (organisasi perangkat desa) untuk mengakomodasi aspirasi 45 anggota DPRD.
Kejaksaan menemukan adanya penyimpangan yang dilakukan secara sistematis oleh anggota dewan ketika menguasai seluruh tahapan hibah.
Menurutnya, kelompok masyarakat penerima hibah hanya dijadikan formalitas administratif. Bahkan, dana hibah juga mengalami pemotongan langsung dengan dalih biaya administrasi hingga kepentingan pribadi.
Pelaksaan kegiatan kerap dialihkan pada pihak ketiga sehingga tidak sesuai dengan prinsip swakelola. Proposal hingga LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) telah dimanipulasi oleh tersangka melalui pihak ketiga yang memiliki afiliasi.
Kasus ini langsung menyita perhatian khalayak luas, terlebih setelah momen emosional Suratno yang terlihat menangis saat digiring menuju tahanan kejaksaan, viral di media sosial.
Berikut profil dan rekam jejak Suratno hingga kekayaan Ketua DPRD Magetan yang tak luput jadi sorotan publik, dihimpun SketsaNusantara.id dari laman resmi DPRD Magetan dan situs resmi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) serta berbagai sumber.
Suratno dikenal sebagai politisi daerah dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang terpilih menjadi anggota DPRD Magetan sejak tahun 2018.
Tak banyak yang bisa diketahui mengenai latar pendidikan Suratno. Dalam perjalanan kariernya di dunia politik, Suratno pernah menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB pada periode 2019-2024.
Selama menjadi anggota dewan, Suratno aktif terlibat dalam berbagai pembahasan kebijakan daerah, termasuk PAD (pendapatan asli daerah), penguatan UMKM, pembangunan infrastruktur hingga pengembangan pariwisata.
Suratno dilantik menjadi Ketua DPRD Magetan periode 2024-2029 yang diharapkan bisa mendorong sektor ekonomi daerah. Namun, setelah 1,5 tahun menjabat, ia terseret kasus korupsi dana Pokir yang menghentikan karir politiknya.