news

Mengapa Perempuan Indonesia Harus Sekolah Tinggi Meski 'Ujung-Unjungnya' ke Dapur Juga? Ini Alasannya Menurut R.A Kartini

Rabu, 22 April 2026 | 07:00 WIB
Tokoh emansipasi wanita, R.A. Kartini (Instagram @badiklatbpkri)

 

SketsaNusantara.id - Sebagai orang Indonesia, hingga saat ini kita masih sering mendengar kata 'mengapa perempuan harus sekolah tinggi jika ujung-ujungnya hanya di dapur?'.

Perempuan Indonesia-pun kadang hanya diam mendengarnya dan kadang justru ikut mempertanyakannya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita sebetulnya bisa mendapatkan jawaban mudah dengan cara menyelami pemikiran Raden Ajeng Kartini.

Baca Juga: Viral Guru Dilecehkan Murid-Murid hingga Acungkan Jari Tengah, Ini yang Dilakukan Dispendik Jawa Barat

Bahwa perempuan yang 'hanya ujung-ujungnya' ke dapur tak patut mendapatkan pendidikan tinggi merupakan pandangan yang salah besar. 

Bagi Kartini, pendidikan bagi perempuan bukan sekadar tiket untuk bekerja di kantoran, melainkan fondasi utama bagi peradaban sebuah bangsa.

Pemikiran itu dilatarbelakangi oleh seorang Kartini yang merupakan putri bangsawan yang harus menjalani tradisi pingit setelah lulus dari Europese Lagere School (ELS) pada usia 12 tahun. 

Baca Juga: Apa Itu Kanker Serviks? 1800 Perempuan di Malang Jalani Skrining Serentak dan Puluhan Terdeteksi

Selama bertahun-tahun, ia dilarang keluar rumah hingga tiba waktunya menikah, dampaknya Kartini merasa terpenjara karena situasi tersebut.

Ia melihat bahwa perempuan kelas atas seperti dirinya sekalipun tidak memiliki kedaulatan atas tubuh dan masa depannya sendiri, maka ia tak bisa membayangkan bagaimana dengan perempuan kalangan biasa.

Ditengah kegundahan itu, ia juga menyaksikan bagaimana praktik poligami di lingkungan bangsawan sering kali merugikan posisi batin dan sosial perempuan.

Baca Juga: Semarak Hari Kartini, Guru SMKN 3 Bondowoso Kompak Berkebaya, Gelar Upacara Hingga Lomba Tumpeng Jajanan Tempoe Doloe

Sebagai salah satu dari sedikit perempuan pribumi yang berkesempatan mengecap pendidikan di sekolah Belanda, apa yang dirasakan dan disaksikannya membuat jiwanya berontak.

Halaman:

Tags

Terkini