Kamis, 11 Juni 2026

Mengapa Perempuan Indonesia Harus Sekolah Tinggi Meski 'Ujung-Unjungnya' ke Dapur Juga? Ini Alasannya Menurut R.A Kartini

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Rabu, 22 April 2026 | 07:00 WIB
Tokoh emansipasi wanita, R.A. Kartini  (Instagram @badiklatbpkri)
Tokoh emansipasi wanita, R.A. Kartini (Instagram @badiklatbpkri)

Keterisolasian selama masa pingit ia kompensasikan dengan menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, seperti Stella dan Rosa Abendanon.

Lewat surat-suratnya, Kartini menuangkan kemuakannya akan situasi perempuan kala itu yang tertuang dalam buku "Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang): Kumpulan surat-surat Kartini yang dikumpulkan dan dibukukan oleh J.H. Abendanon pada tahun 1911.

Melalui surat-suratnya kepada sahabat pena di Belanda, Kartini mengungkapkan rasa muaknya terhadap adat yang dianggapnya kolot dan membandingkannya dengan gerakan feminisme yang sedang tumbuh di Eropa pada akhir abad ke-19.

Sahabat-sahabat penanya memberikan stimulasi intelektual yang meyakinkan Kartini bahwa kondisi perempuan di Hindia Belanda (Indonesia kala itu) harus diubah melalui pendidikan.

Dari sana kemudian Kartini menyadari bahwa kemunduran bangsanya, khususnya kaum perempuan, disebabkan oleh ketidaktahuan dan kurangnya akses kepada ilmu pengetahuan.

Setelah menyadari bahwa pendidikan adalah kunci utama kemajuan perempuan dan bangsanya, Kartini tidak hanya berhenti pada tataran pemikiran atau surat-menyurat saja.

Ia kemudian melakukan langkah-langkah konkret dan diplomatis untuk mewujudkan visinya, meskipun ruang geraknya saat itu  sangat terbatas oleh adat dan aturan kolonial.

Kartini kemudian mendirikan Sekolah Gadis di Rembang, sekolah kecil bagi perempuan di teras kantor kabupaten.

Setelah menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, meski berstatus sebagai istri ke-4, Kartini mendapatkan dukungan penuh dari suaminya.

Sekolah Gadis ini tidak hanya mengajarkan baca-tulis, tetapi juga menjahit, menyulam, memasak, dan nilai-nilai budi pekerti.

Visinya jelas, Kartini ingin para perempuan memiliki bekal keterampilan praktis sekaligus kemampuan berpikir kritis agar bisa mandiri dalam keluarga.

Kartini percaya bahwa jika menjadi ibu sekalipun, perempuan akan menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya sehingga ia akan menjadi seorang ibu cerdas dan harapannya generasi penerus bangsa pun akan cerdas dan maju.

Itulah mengapa perempuan harus berpendidikan sama seperti laki-laki, bukan untuk bersaing atau bebas dari laki-laki, melainkan upaya agar perempuan bisa menjadi mitra yang sejajar dalam memajukan peradaban dan kemanusiaan.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: "Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang):

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X