SketsaNusantara.id – Kebahagiaan mendalam dirasakan oleh Salami, seorang lansia asal Desa Kemuningsari Lor, Kecamatan Panti.
Hunian yang selama puluhan tahun ia tinggali kini telah bertransformasi total melalui program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digulirkan pemerintah setempat.
Sebelum mendapatkan bantuan, Salami harus bertahan hidup di bangunan sederhana berdinding kalsiboard dengan lantai tanah.
Baca Juga: Ambisi Bupati Gus Fawait: 1.000 Rumah Layak Huni untuk Warga Jember di 2026
Kondisi tersebut membuatnya selalu was-was setiap kali hujan turun karena atap yang bocor. Kini, gubuk rapuh itu telah berganti menjadi bangunan tembok yang kokoh dan bersih.
Salami tidak sendirian, tercatat ada enam warga di wilayahnya yang turut menerima manfaat dari bantuan serupa.
"Dulu bawahnya cuma tanah. Kalau hujan datang, rumah pasti bocor. Alhamdulillah, sekarang sudah jauh lebih baik," ujar Salami dengan penuh haru saat ditemui pada Rabu 15 April 2026.
Baca Juga: Kebut Proyek Street Food di Jalan Kartini, Pemkab Jember Tetap Kedepankan Toleransi
Keseharian Salami diisi dengan bekerja sebagai pencari rumput atau ngarit. Sebagai seorang janda di usia senja, dia mengandalkan sistem bagi hasil (gaduh) dari merawat ternak milik tetangganya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dengan penghasilan yang sangat terbatas, membangun rumah permanen awalnya hanyalah mimpi yang mustahil.
Namun, berkat pendataan dari perangkat desa, namanya berhasil masuk dalam daftar penerima bantuan perbaikan rumah.
Meski kini tinggal di rumah yang lebih bermartabat, pola hidup Salami tetap bersahaja. Di dalam rumah barunya, hanya terlihat sebuah kasur yang menjadi tempat melepas lelah usai bekerja di ladang.