Selain itu, Indonesia juga mendorong dilakukannya penyelidikan secara menyeluruh dan transparan untuk mengungkap fakta di balik serangan tersebut.
"Pemerintah Indonesia mengecam keras insiden ini. Keselamatan pasukan pemelihara perdamaian harus dihormati setiap saat sesuai dengan hukum internasional," tuturnya.
"Indonesia menegaskan pentingnya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan untuk mengungkap fakta secara jelas dan akuntabel, sebagai dasar bagi pertanggungjawaban atas insiden ini yang menewaskan personel kami," imbuhnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong deeskalasi seiring meningkatnya intensitas serangan di Lebanon Selatan yang dinilai telah mengganggu pelaksanaan mandat UNIFIL sebagaimana diatur dalam Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.
Indonesia pun menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri, menghentikan kekerasan, serta menghormati keberadaan dan tugas pasukan penjaga perdamaian.
"Kami mengecam keras serangan-serangan yang dilakukan Israel di wilayah Lebanon selatan, dan mendorong eskalasi yang menyulitkan pelaksanaan mandat UNIFIL sesuai Resolusi 1701 (2006)," tulis Sugiono.
"Indonesia mendorong deeskalasi dengan kembali ke langkah meja-meja perundingan. Kami juga menyerukan kepada seluruh pihak untuk menahan diri, menghentikan kekerasan, serta menghormati keselamatan dan pelaksanaan mandat pasukan pemelihara perdamaian PBB,"
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut terus berkoordinasi dengan PBB dan otoritas setempat.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan proses pemulangan jenazah almarhum berjalan lancar, sekaligus memberikan penanganan terbaik bagi prajurit yang terluka.
"Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI terus berkoordinasi dengan PBB dan otoritas terkait, baik untuk memastikan proses pemulangan Almarhum Praka Farizal berjalan dengan baik maupun penanganan optimal bagi personel yang terluka, serta terus memantau perkembangan situasi secara seksama," pungkasnya.
Di tengah suasana berduka ini, reaksi publik pun bermunculan di media sosial. Banyak warganet yang menyampaikan belasungkawa, namun tak sedikit pula yang mempertanyakan langkah pemerintah ke depan.
Publik mendesak pemerintah untuk segera keluar dari Board of Peace atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS, Donald Trump yang dinilai ikut mendukung Israel.
Tak sedikit warganet yang menyerukan perlunya langkah tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab hingga menyinggung nasib keluarga yang ditinggalkan, termasuk istri dan anak almarhum.
"Penghormatan aja? Ga ada tuntutan apa-apa ke israel? TARIK SEMUA TNI KITA YANG SEDANG BERADA DI WILAYAH KONFLIK & SEGERA KELUAR DARI BOP!," tulis salah satu warganet di kolom komentar unggahan Menlu.
"Indonesia harus segera keluar dari BOP karena serangan Israel didanai dewan perdamaian Trump, kalo masih tetap gabung Board of Peace sama aja kaya Prajurit TNI kita dibunuh bangsa sendiri karena mendukung zionist yang menyerang Lebanon," imbuh warganet lainnya.
"Kasihan anak & istri personel TNI yang ditinggalkan, apa negara cuma sekedar memberi penghormatan?? Lihat presiden Korut, kalo ada warganya yang meninggal, Kim Jong Un, menyatakan siap ikut PERANG. Negara kita punya pemimpin seolah menjadi pelindung bagi kami tapi nyatanya kebijakannya gak pernah berpihak pada rakyat, akhirnya nyawa taruhannya," komentar warganet lainnya.
Duka mendalam juga dirasakan Iran. Duta Besar Republik Islam Iran untuk Jakarta, Mohammed Boroujerdi juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya prajurit TNI yang bertugas sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon (UNIFIL).