Meskipun sebelumnya ia memegang gelar Hujjat al-Islam (ulama tingkat menengah), pada tahun 2022 ia secara resmi diakui telah mencapai derajat Ayatollah.
Meski menyandang nama besar, Mojtaba dikenal sebagai sosok yang sangat low profile (tertutup). Ia jarang tampil di publik, hampir tidak pernah memberikan pidato politik terbuka, dan suaranya jarang terdengar oleh rakyat Iran hingga saat penunjukannya.
Berbeda dengan banyak politisi Iran yang meniti karier lewat jalur birokrasi, pengaruh Mojtaba dibangun melalui jaringan keamanan dan intelijen dibalik layar.
Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan bertugas di Batalyon Habib selama tahap akhir Perang Iran-Irak.
Untuk itu ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan pimpinan elit militer Iran. Kedekatan inilah yang dianggap menjadi faktor kunci dukungan Majelis Ahli serta dukungan Milisi Basij terhadapnya.
Namun rupanya penunjukan Mojtaba Khamenei ditentang oleh barat, Donald Trump dalam pernyataannya menyampaikan bahwa putra Khamenei 'tidak bisa ia terima' sebab ia menginginkan seseorang yang menurutnya akan membawa harmoni dan perdamaian di Iran.
Senada dengan Trump, para analis menilai Mojtaba memiliki pandangan yang bahkan lebih konservatif dibandingkan ayahnya. Penunjukannya di tengah ketegangan perang dengan Amerika Serikat dan Israel mengirimkan sinyal kuat bahwa Iran akan menutup pintu bagi kelompok reformis yang menginginkan dialog dengan Barat.
Untuk itu penunjukan Mojtaba Khamenei dipandang sebagai pertaruhan besar bagi masa depan Iran. Bagi pendukungnya, ia adalah simbol stabilitas di tengah badai, bagi kritikusnya ia adalah simbol kembalinya sistem monarki dalam balutan jubah ulama.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!