news

Anggaran MBG Rp8-10 Ribu Jadi Perdebatan, Netizen Bandingkan dengan Program Makan Balita yang Dinilai Lebih Efisien

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:12 WIB
Contoh menu makanan bergizi untuk balita yang dibagikan dalam program komunitas, memicu diskusi soal efisiensi anggaran makanan bergizi. (X/dosenkesmas)

SketsaNusantara.id - Perbincangan mengenai anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali ramai di media sosial setelah sejumlah warganet membandingkannya dengan program pemberian makanan bergizi yang telah dilakukan secara mandiri oleh komunitas masyarakat.

Salah satu unggahan yang menjadi sorotan datang dari akun usaha kuliner @baraka_steak yang diunggah ulang oleh akun @dosenkesmas.

Unggahan tersebut membagikan pengalaman mereka dalam menjalankan program pemberian makanan untuk anak balita dalam rangka membantu mengatasi masalah stunting.
 
Baca Juga: Viral Menu MBG untuk Anak PAUD: Pisang Kecil, Telur Rebus, hingga Timun Utuh Jadi Sorotan

Unggahan tersebut kemudian ramai dibicarakan setelah dibagikan kembali oleh sejumlah pengguna media sosial di platform X.

Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan tersebut dijelaskan bahwa program yang mereka jalankan memiliki konsep sederhana namun dinilai efektif.

Program tersebut dibuat secara gotong royong bersama teman-teman komunitas dengan tujuan membantu anak-anak balita mendapatkan asupan makanan bergizi.
 
Baca Juga: Begal Sadis Beraksi di Patrang Jember, Pengendara Vario 160 Kehilangan Motornya Oleh 2 Pelaku Bersenjata Karambit

“Mbak, ini program saya sama teman-teman waktu itu buat stunting anak-anak balita,” tulis akun @baraka_steak.

Pengunggah menjelaskan bahwa program tersebut berjalan dengan biaya yang relatif kecil namun tetap mampu menyediakan makanan yang bergizi bagi para penerima manfaat.

Menurut penjelasan dalam unggahan tersebut, biaya yang digunakan untuk menyediakan satu porsi makanan bagi anak-anak balita relatif rendah. Bahkan biaya tersebut sudah mencakup beberapa komponen operasional yang diperlukan.
 
Baca Juga: Sejarah Americano yang Sempat Diperdebatkan di Medsos: Dulu Jadi Sindiran Warga Italia untuk Tentara AS yang Tak Kuat Minum Espresso Sejak PD 2

“15 rb, dah bisa buat belanja bahan, kurir, kader posyandunya, plus fee buat bagian dapur,” lanjutnya.

Artinya, dengan anggaran sekitar Rp15.000 per porsi, program tersebut sudah mampu menutupi biaya bahan makanan, pengantaran, serta dukungan operasional dari kader posyandu dan dapur produksi.

Pengunggah juga menjelaskan bahwa program tersebut sempat melayani sekitar 60 anak balita. Menariknya, menurut mereka, penghitungan biaya bahkan dapat dilakukan dengan sangat detail hingga pada tingkat pembelian bahan secara eceran.

“Padahal bikin hanya 60 orang. Belanja bisa dihitung recehan,” jelasnya.

Hal ini menjadi perhatian warganet karena menunjukkan bahwa program komunitas dengan skala relatif kecil pun dapat menyajikan makanan bergizi dengan biaya yang dianggap efisien.

Diskusi semakin meluas ketika unggahan tersebut dikaitkan dengan perdebatan mengenai anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.

Perbandingan tersebut memunculkan berbagai pandangan dari warganet mengenai efektivitas penggunaan anggaran dalam penyediaan makanan bergizi.

Dalam unggahan tersebut pengunggah mempertanyakan tantangan yang dihadapi program MBG jika dibandingkan dengan pengalaman mereka menjalankan program serupa secara mandiri.

“MBG sulitnya di mana coba ketika semua bahan malah bisa harga bisa separo belanja eceran,” tulisnya.

Pernyataan ini memicu diskusi di kalangan pengguna media sosial mengenai efisiensi rantai distribusi bahan makanan, sistem pengadaan, serta mekanisme pengelolaan anggaran dalam program berskala nasional.

Pengunggah bahkan menilai bahwa dengan jumlah anggaran tertentu, kualitas menu yang dihasilkan bisa lebih baik jika pengelolaannya dilakukan secara tepat.

“Kami bisa lho bikin 10rb untuk makanannya modelan seperti ini,” lanjutnya.

Selain membahas biaya, unggahan tersebut juga menampilkan contoh menu makanan yang disediakan dalam program mereka.

Dari gambar yang dibagikan, terlihat makanan terdiri dari nasi, lauk, sayuran, serta buah yang dikemas dalam kotak makan.

Menurut pengunggah, selain makanan utama, anak-anak juga terkadang mendapatkan tambahan makanan ringan yang tetap memperhatikan aspek kesehatan.

“Masih kadang dapat ekstra snack sehat buat anak-anak,” tambahnya.

Menu yang disajikan juga terlihat cukup lengkap dengan kombinasi karbohidrat, protein, dan sayuran, yang memang menjadi komponen penting dalam pemenuhan gizi anak-anak.

Dalam unggahan tersebut juga disampaikan gagasan mengenai cara menekan biaya produksi makanan bergizi. Salah satu caranya adalah dengan membeli bahan makanan langsung dari sumber utama seperti petani atau peternak.

Pengunggah menilai bahwa pendekatan tersebut dapat membantu menurunkan harga bahan sekaligus mendukung produsen lokal.

“Kalian bahkan bisa belanja langsung ke petani/peternak/pabrikan/RPH,” jelasnya.

Pendekatan seperti ini dianggap dapat memotong rantai distribusi yang panjang sehingga harga bahan makanan bisa menjadi lebih murah.

Unggahan tersebut kemudian memicu diskusi luas di media sosial. Sebagian warganet menilai pengalaman komunitas tersebut dapat menjadi inspirasi dalam pengelolaan program makanan bergizi yang lebih efisien.

Sementara itu, sebagian lainnya mengingatkan bahwa program berskala nasional tentu memiliki tantangan yang lebih kompleks, mulai dari distribusi, logistik, hingga standar kualitas makanan yang harus dipenuhi.

Di sisi lain, diskusi mengenai program MBG sendiri terus berkembang. Beberapa pengguna media sosial juga menyoroti pentingnya pengawasan penggunaan anggaran serta evaluasi terhadap pelaksanaan program agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.***
 
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Tags

Terkini