"Paham mungkin ini direncanakan jauh hari, tapi miris banget anggarannya pasti gede untuk bikin seremonial kaya gini, padahal bisa dialokasikan uangnya untuk perbaiki kualitas pendidikan, beri gaji yang layak untuk honorer, banyak rakyat yang gak bisa makan, pak presiden," timpal warganet lainnya.
"Miris melihat ini, bagaimana negara kita memperlihatkan kemegahan dan kemeriahan seremonial di panggung nasional dan internasional, sementara kelaparan, kemiskinan dan ketidaksanggupan masyarakat di tengah kondisi ekonomi sulit, masih jadi realita yang harus dibenahi. Salah satunya di Sumatera yang masih banyak butuh perhatian untuk pulih," tulis netizen lainnya.
Meski menuai kritik, penyambutan tersebut disebut sebagai bagian dari protokol kenegaraan sekaligus bentuk penghormatan terhadap tamu negara.
Presiden Prabowo Subianto bahkan sempat menyampaikan permintaan maaf karena tidak dapat menjemput langsung Albanese di bandara saat kedatangannya pada Kamis, 5 Februari 2026 malam.
Menanggapi sambutan meriah tersebut, Albanese justru menyampaikan apresiasi. Ia tidak keberatan saat mendengar permintaan maaf Preilsiden dan mengaku merasa sangat dihormati selama berada di Indonesia.
"Australia dan Indonesia semakin dekat. Terima kasih Presiden Prabowo atas keramahannya, telah menjamu kami di Jakarta," tulis Albanese dalam unggahan di akun Instagram @albomp pada hari Jumat, 6 Februari 2026.
"Tuan Presiden, ini sungguh luar biasa kita bisa bertemu. Saya telah bertemu puluhan orang dan kami selalu merasa sangat disambut di sini," ujar Albanese dalam pertemuan tersebut.
Di balik sorotan publik terhadap seremoni penyambutan, kunjungan ini memiliki agenda strategis yang cukup penting.
Salah satu fokus utama adalah penandatanganan traktat keamanan baru antara Indonesia dan Australia.
Kesepakatan ini bertujuan memperkuat kerja sama pertahanan, meningkatkan stabilitas kawasan Indo-Pasifik, serta memperluas kolaborasi dalam bidang keamanan maritim, penanggulangan ancaman regional, hingga kerja sama militer.
Selain sektor pertahanan, kedua negara juga membahas peningkatan kerja sama ekonomi, investasi, perdagangan, serta pendidikan.
Hubungan bilateral Indonesia dan Australia selama ini dikenal cukup stabil dan saling menguntungkan, terutama dalam menjaga keamanan kawasan dan memperkuat konektivitas regional.
Meski menuai pro dan kontra dari masyarakat, kunjungan Albanese ke Indonesia tetap menjadi momentum penting bagi kedua negara dalam mempererat kemitraan strategis di tengah dinamika geopolitik kawasan yang semakin kompleks.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!